Rabu, 17 Maret 2021

Blurb
"Finlandia mengejutkan dunia ketika siswa-siswanya yang masih berusia 15 tahun berhasil mencatatkan skor ter tinggi di penyelenggaraan pertama PISA (Programme for International Student Assessment), pada 2001. Ujian itu meliputi penilaian ketrampilan berpikir kritis di matematika, sains, dan membaca. Hingga kini, negara mungil ini terus-terusan memukau. Bagaimana pendidikan Finlandia yang jam pelajarannya pendek, PR-nya tidak banyak, dan ujiannya tidak begitu terstandardisasi, dapat mencetak siswa-siswa dengan prestasi yang sangat baik?

Ketika Timothy D. Walker mulai mengajar kelas 5 di sebuah sekolah negeri di Helsinski, ia mulai mencatat rahasia-rahasia di balik kesuksesan sekolah- sekolah Finlandia. Walker menuliskan rahasia-rahasia ini, dan artikel-artikelnya di Atlantic kerap menuai tanggapan antusias. Dalam buku ini, ia mengumpulkan semua temuan tersebut, dan menjelaskan pada para pengajar, cara untuk mengimplementasikannya.

Ulasan
Publikasi OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) tahun 2001 mengenai studi kemampuan anak-anak berusia 15 tahun yang berhubungan dengan keterampilan membaca, matematika dan ilmiah, atau dikenal dengan PISA (Programme for International Student Assessment), Finlandia bercokol di peringkat puncak. Pemberitaan media, diskusi pakar/praktisi pendidikan, maupun like and share laman sosial media, ramai membahasnya. Di buku ini, Timothy D. Walker, seorang pengajar asal Amerika Serikat yang berpindah ke Finlandia,ia memutuskan untuk pindah ke negara kelahiran sang istri, Helsinki, Finlandia. Setelah melewati 'hari-hari yang 'berat' sebagai seorang guru. Sebelum pindah ke Helsinki berulang kali ia mendengar istrinya bercerita tentang pendidikan disana, yang bergerak lebih 'lambat' namun menyenangkan dan kabar baiknya cara-cara yang diterapkan oleh guru-guru di Finlandia terbukti berhasil. Maka, terurailah 33 strategi sederhana untuk kelas yang menyenangkan dari pengalamannya mengajar di negara Nordic ini.

Terbagi dalam 5 judul besar, Walker berusaha membandingkan antara pengalamannya mengajar di Amerika dengan Finlandia ini.

 

1. Kesejahteraan

Disini Walker menceritakan tentang strategi Jadwal istirahat otak; belajar sambil bergerak; recharge sepulang sekolah; menyederhanakan ruang: menghirup udara segar; masuk ke alam liar; menjaga kedamaian

 

ü      Jadwal istirahat otak

Membandingkan bagaimana sibuknya aktivitas belajar mengajar di Amerika dengan Finlandia. Terlihat buang-buang waktu, namun ternyata menyempatkan istirahat secara rutin di sela-sela pembelajaran terbukti efektif untuk menjaga konsentrasi para peserta didik. Dalam satu jam pembelajaran disediakan waktu 15 menit untuk mengistirahatkan otak. Bukan untuk diakumulasikan, tapi diteraturkan meskipun sebentar.

ü      Belajar sambil bergerak

Galeri berjalan bisa dijadikan pilihan untuk tetap membuat siswa betah belajar. Presentasi satu per satu nampak tidak efektif jika hanya begitu-gitu saja. Setiap siswa menempelkan karya untuk kemudian diberi masukan oleh para teman layaknya sebuah pameran terlihat lebih efisien. Dengan begini seorang fasilitator secara tidak langsung telah memperbaiki karya anak didik.

ü      Recharge sepulang sekolah

Di Finlandia, beban fulltime itu hanya 24 jam seminggu, sangat ‘malas’ dibanding Amerika. Karena mereka tahu pentingnya meninggalkan tempat kerja untuk recharge dalam rangka agar tetap kuat menjadi guru.

Sekali kita memahami pentingnya rutinitas recharge baterei mengajar, kita juga akan mulai melihat bagaimana pentingnya hal ini bagi peserta didik.

Maaf jika membuat Anda kecewa, mitos populer bahwa tidak ada PR di Finlandia, karena guru disana memiliki pemahaman signifikan tentang PR, sederhana dapat dikerjakan beberapa hari.

ü      Menyederhanakan ruang

Buat ruang tetap sederhana, karena sesuai dengan penelitian bagaimana ruang kelas yang banyak dekorasi berpotensi membuat anak-anak gagal fokus pada pelajaran. Jikalau ingin menempel, tetap fokus untuk menyediakan tempat bagi karya ‘spesial’ agar mereka memiliki tanggung jawab. Libatkan mereka untuk menghemat waktu.

 

ü      Menghirup udara segar

Suatu keberuntungan saat seorang siswa tanpa diminta selalu membuka jendela yang ada di kelas. Baru disadari, udara alami sangat dibutuhkan otak agar tetap konsentrasi bekerja. Suhu ideal untuk belajar adalah 19 derajat celsius dan 24 derajat celsius. Inilah salah satu mengapa penting menempel termometer di ruangan. Minimalkan penggunaan bantuan cahaya dalam ruangan.

Hiruplah udara segar, bahkan hujan sekalipun bukan alasan untuk tidak istirahat di luar kelas, karena kita bukan gula.

ü      Masuk ke alam liar

Manfaatkan kekayaan daerah, bisa dengan berkegiatan menyusuri hutan yang ada. Atmosfer belajar menjadi kompleks namun tetap damai ketika belajar praktik berbasis lingkungan, bahkan sampai masuk ke alam liar, misalnya tradisi berkemah untuk kelas 5 dan 6 selama beberapa hari.

 

ü      Menjaga kedamaian

Putar badan dan mulai bicara. Beri kesempatan para peserta didik untuk memilih kepentingannya, entah berdiskusi, berkonsentrasi ataupun bereksperimen, sebab polusi kebisingan mempengaruhi pemahaman.

Buatlah aturan bersama dengan point utama ‘hormati diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Bisa dengan kegiatan pengukuran kebisingan.

 

2. Rasa dimiliki

Walker cerita tentang strategi mengenal setiap anak; bermain dengan anak-anak; merayakan pembelajaran mereka; mengejar mimpi kelas; menghapus perisakan (bullying); berkawan.

ü      Mengenal setiap anak

Guru yang berkomitmen mengenal murid mereka, suka tidak suka akan mengembangkan berbagai metode untuk mengenal murid dengan baik, yang pada akhirnya akan berkontribusi dalam membentuk rasa dimiliki pada setiap anak.

ü      Bermain dengan anak-anak

The first day school- Anda hars selesai menyelesaikan semua persiapan sebelum sekolah dimulai, karena itulah keberhasilan Anda sepanjang tahun. Seminggu pertama untuk ‘bermain’, misal membentuk tim building atau permainan bingo manusia.

ü      Merayakan pembelajaran mereka

Menikmati bersama masakan yang dihasilkan di kelas memasak selama 20 menit di akhir pembelajaran merupakan kegiatan yang begitu mengena bagi mereka. Atau mengadakan obrolan buku dimana para peserta didik diberi kesempatan memilih sendiri bahan bacaan sesuai level, lalu mereka menyampaikan sedikit laporan yang menunjukkan pemahaman (bisa jadi mirip sayembara kali ini).

ü      Mengejar mimpi kelas

Tradisi berkemah membuat munculnya inisiatif untuk melakukan penggalan dana. Ada lagi ide cemerlang untuk membuat blog pembelajaran kelas yang menyenangkan. Pastikan mereka terlibat dalam setiap mimpi kelas. Paling penting adalah mimpi tersebut harus realistik.

ü      Menghapus perisakan

Hal yang sering terabaikan adalah tindakan mirip perisakan. Isi formulir kesepakatan waktu negosiasi dan terus lakukan follow up.

ü      Berkawan

Tidak ada salahnya, fasilitator memberi kesempatan untuk pertukaran belajar antar tingkat. Kakak adik belajar saling memahami, dan perisakan terbukti berkurang dengan kegiatan ini.

3. kemandirian

Walker mengumpulkan strategi berikut disini: mulai dengan kebebasan; meninggalkan batas; menawarkan pilihan; buat rencana bersama kawan kecil anda; buat jadi nyata; tuntutan tanggung jawab

Pelajar SD di Finlandia terbiasa berangkat dan pulang sekolah tanpa antar jemput. Kemandirian diluar sekolah, ditularkan ke dalam kelas model jam pelajaran terbuka yang penuh kebebasan, misalnya pada “Pekan Pembelajaran Mandiri”. Teach like a champion, Doug Lenov menyebut do know dengan arahan di satu tiitik, tanpa perlu instruksi lebih lanjut, sebaiknya dalam bentuk tertulis, 3-4 menit untuk menampilkan secara singkat materi hari itu.

4. penguasaan

Ajarkan hal-hal mendasar; gunakan buku pegangan; manfaatkan teknologi; memasukkan musik; menjadi pelatih; buktikan pembelajaran; mendiskusikan nilai.

Walaupun diberi ruang kebebasan, murid dan guru tetap memiliki buku pegangan berdasarkan kurikulum agar mereka tetap fokus pada konten yang mendasar dan penting. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran di Finlandia sesuai kebutuhan, dalam arti tidak harus memiliki gawai teknologi terbaru, karena bagi mereka yang terpenting adalah pembuktian/penguasaan materi yang diuji saat ujian/test. Soal test SD di sana sudah diberikan model pertanyaan terbuka dan mengasah analisis. Berikut contoh soal pelajaran Sejarah mereka : “Mengapa orang-orang bermigrasi ke Finlandia? Jelaskan Pemikiranmu”. Yang paling aneh di bagian ini adalah penilaian bukan hak prerogratif guru, murid dilibatkan diskusi dalam proses ini sebelum dituliskan di rapor. Sejak 2016, penilaian tidak ditekankan pada angka, melainkan masukan naratif.

 

5. Pola pikir

Terakhir, Walker mengajak kita untuk mencari flow; berkulit tebal; kolaborasi lewat kopi; menyambut para ahli; melepas diri untuk berlibur; jangan lupa bahagia.

Setiap guru di Finlandia memiliki mentor dan partner yang saling menguatkan, saling membantu cek medis dan berkolaborasi lewat kopi di setiap jeda sehari-hari. Carilah flow bukan superioritas, berkulit tebal bukan keras kepala. Tampak bijaksana jika Anda memiliki dana yang cukup, untuk secara fisik melepaskan diri, berlibur dan mengisinya dengan sehat (ubah pola pikir?), off dari email dan sosial media. Dengan begini akan lebih membuat kita bersemangat menjadi lebih aktif secara fisik, lebih menghargai alam, dan lebih banyak waktu untuk keluarga.

Kebahagianlah yang membuat saya tetap mengajar, selalu saya ingat dan prioritaskan di kelas. Bagaimana dengan Anda?

Wallahu ‘alam bi shawab




Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates