Rabu, 24 Maret 2021

Tak dapat dipungkiri bahwa peran orangtua cukup besar dalam mengembangkan IQ (Intelligence Quotient) maupun EQ (Emotional Quotient) buah hatinya. Beragam cara pun dilakukan, misalnya sejak bayi bahkan ketika para ananda masih dalam kandungan sudah dibiasakan untuk mendengarkan lantunan murotal, kisah yang dibacakan oleh ibundanya, maupun alunan musik klasik. Dalam pertumbuhan selanjutnya, anak mulai dirangsang dengan berbagai macam permainan untuk mengembangkan daya pikir, komunikasi dan sosialisasimya dengan lingkungan. Di lingkungan rumah anak pertama kali belajar menggunakan daya pikirnya untuk memecahkan masalah dan bagaimana bersikap pada lingkungannya. Begitu masuk sekolah, peran orang tua digantikan 'sementara' oleh guru. Anak kembali memperoleh rangsangan yang mungkin saja berbeda dengan apa yang selama ini diberikan di lingkungan rumah. Tidak jarang anak berkomentar "Tidak Yah, bukan begitu... bu guru tidak begitu mengajarinya".


Maka komunikasi antara guru dan orang tua harus tetap terbina agar anak tidak mengalami kebingungan. Pada saat itu pulalah kita sebagai orang tua maupun guru menyadari bahwa begitu besar peran kita dalam mengembangkan kemampuan anak-anak di segala bidang. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita sebagai orang tua maupun guru mengembangkan IQ dan EQ anak?
Tidaklah adil jika kita hanya mengembangkan kemampuan otak kiri saja sebagaimana yang kita dapat selama ini, pengembangan otak sebelah kanan juga perlu agar anak dapat lebih kreatif dan imajinatif dalam ide-idenya. Di samping itu, rangsangan yang berkaitan dengan pengembangan emosi juga perlu diperhatikan. Holeman (1997, dalam Diennaryati, 2000) mengemukakan bahwa untuk mendapatkan pengendalian emosi secara sehat perlu latihan seperti berikut ini:
1. Mengajarkan anak untuk mengenali perasaannya sendiri dan membiarkan pengungkapan secara sehat, misalnya bukan menunjukkan marah yang ditahan, tetapi tunjukkan marah yang perlu dipelajari pengendaliannya.
2. Melatih anak mengekspresikan perasaan dengan baik.
3. Melatih anal mengenali perasaan orang lain dan dampak dari perasaan orang lain jika pelampiasan perasaannya dalam bentuk emosional yang terarah.
4. Melatih anak untuk bersabar dengan tidak selalu mengikuti dorongan emosi.

Untuk melatih hal-hal tersebut, orang tua maupun guru perlu memiliki sikap yang mendukung sebagai model yang baik bagi anak untuk ditiru perilakunya. Anak akan protes jika kita menuntut sikap tertentu namun kita sendiri tidak menunjukkan sikap tersebut.




Beberapa tahap penanganan dalam melatih emosi anak

1. Menyadari emosi anak
Pupuk empati untuk merasakan bagaimana perasaan anak-anak. Kepedulian dan kesadaran akan emosi mereka akan membuat anak merasa dimengerti dan diterima apa adanya. Inilah dasar dari kesediaannya mau mengerti pula apa harapan kita.

2. Mengakui emosi sebagai peluang untuk kedekatan dan mendidik
Usahakan jangan mengabaikan perasaan negatif anak, karena perasaan tersebut baru hilang jika anak bisa membicarakan emosinya secara jujur dan diakui oleh orang tua maupun gurunya. Pengakuan emosi sedini mungkin akan lebih sehat sebelum berkembang menjadi kritis.

3. Mendengarkan dengan empati dan meneguhkan perasaan anak
Yang akan menjadikan anak mengerti bahwa orang tua/guru memperhatikan keprihatinannya karena diakui secara terbuka.

4. Menolong anak memberi nama emosi dengan kata-kata
Agar nantinya anak mampu melukiskannya secara verbal dan bukan hanya non verbal saja sehingga kita mudah memahaminya.

5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah
Berdasarkan nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungannya.

Tahapan-tahapan tersebut memang tidak mudah jika harus dilakukan karena untuk mengembangkan pengendalian emosi anak juga perlu diperhatikan beberapa hal berikut
A. Hindari kritik, komentar yang menghina
B. Gunakan pujian lebih banyak namun tetap wajar
C. Pahami perasaan anak dan coba ungkapkan apa yang dirasakan anak tersebut.
D. Jangan paksakan pemecahan kita kepada anak.
E. Beri banyak pilihan konkret agar anak memutuskan dengan lebih tenang
F. Membaca buku bersama anak.
G. Bersabar
H. Sikap kita yang terburu-buru akan dirasakan anak sehingga mereka menjadi tidak nyaman.
I. Bicaralah berdua dengan anak karena pihak ketiga justru akan mempermalukan mereka.
J. Hindari sikap selalu marah, cobalah tenangkan diri.
K. Hati-hati karena adakalanya anak-anak memanipulasi emosi.

Wallahu a'lam bi showab

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates