Senin, 13 Juli 2020

Bismillaah
Tugas ketiga dari Reading Challenge ODOP ke 8 adalah membuat mindmap dari buku pengembangan diri. Saya yang tergolong masih jarang mengoleksi buku kriteria tersebut sempat bingung memilih buku cetak mana yang cocok dengan tugas tersebut. Sampailah pilihan pada buku Lembaga Budi karangan Prof. HAMKA yang masih bersegel plastik di lemari, buku hadiah dari event jumpa penulis oleh Komunitas Forum Lingkar Pena Malang setahun yang lalu.

Kali ini saya ingin mengulas Bab tentang Penyakit Budi, apa dan bagaimana penyakit budi menurut penulis berdasarkan pendapat Imam Al Ghazali?

Tak syak lagi bahwa keseimbangan udara di dalam badan adalah pangkal dari kesehatan badan. Bila tidak seimbang lagi udara badan, itulah tanda mulai sakit. Contoh kesehatan badan itu dapat pula diambil untuk kesehatan jiwa.
Keseimbangan dalam sikap jiwa adalah tanda jiwa sehat.
Penyakit yang ada pada jiwa dapat diobati dengan memberantas segala perangai buruk dan menegakkan perangai baik, serupa juga dengan badan dalam memberantas sakitnya dan mencapai kesehatannya. Pokoknya ialah keseimbangan.
Sebab-sebab yang menimbulkan suatu penyakit diobati dengan lawannya. Penyakit panas dilawan dengan obat yang berkhasiat mendinginkan dan penyakit yang sifatnya sejuk
diobati dengan ramuan yang berkhasiat menjadikan panas.
Jiwa pun demikian pula. Sebab-sebab yang mendatangkan suatu penyakit ke dalam jiwa, diobat pula dengan lawannya.
Penyakit bodoh dilawan dengan belajar, penyakit bakhil diobati dengan pemurah, penyakit sombong diobati dengan tawadhu.
Mengobati penyakit badan yang sakit, tidak dengan satu macam obat saja. Berbagai macam penyakit jika diobati dengan semacam obat akan lebih banyak membunuh daripada menyembuhkan. Mengobati jiwa pun demikian pula.
Hendaklah dokter memeriksa terlebih dahulu keadaan (situasi) penyakit tiap-tiap pasiennya itu, bahkan periksa berapa umurnya. Penyakit yang menimpa anak muda yang
masih berjiwa muda, tidak akan bekerja jika diobati dengan ramuan obat orang tua. Hendaklah diketahui benar sampai di
mana latihan yang dapat dipikulkan.
Seseorang yang terserang sakit jiwa yang masih dalam taraf permulaan, maka obat yang sesuai buat jiwanya barulah rukun bersuci, rukun sembahyang dan ibadah lahiriyah yang
lain. Kalau dia terpesona oleh harta haram, perintahkanlah dia terlebh dahulu melepaskan harta itu dari dirinya. Kalau dia rakus, banyak makan, maka latih dia berpuasa dan
mengurangi makan. Kalau dia penakut, obati dia dengan menghadapi pekerjaan yang memerlukan keberanian, misalnya pergi merantau ke negeri lain.
Bukan maksud penulis menguraikan pendapat Imam Al Ghazali seterusnya hendak menyebutkan macam penyakit jiwa dan macam obatnya secara terperinci. Maksud kita hanya semata-mata hendak menerangkarn jalan umum yang harus ditempuh, yaitu menghadapi penyakit jiwa yang dipelopori
oleh hawa nafsu dengan obat yang dapat menentangnya.
Tuhan Allah telah memberikan tuntunan bagaimana sistem atau cara yang harus kita tempuh dalam memberantas penyakit jiwa akibat hawa nafsu itu.

"Dan adapun orang yang takut akan maqam Tuhannya, dapat menahan diri dari pengaruh hawanya, maka surgalah yang akan
menjadi kediamannya," (QS an-Nazi'at [179): 40).
Pokok utamanya di dalam latihan ini ialah keteguhan 'azam (tekad). Kalau telah ada 'azam (tekad) hendak meninggalkan kuat, wajiblah sabar dan terus, jangan berhenti di tengah jalan, Karena kalau nafsu telah biasa pula meninggalkan 'azam dan tidak disiplin, jalan kacau itulah yang terbiasa dan pada
akhirnya membawa kehancuran. Maka kalau berkebetulan terlanggar 'azam itu, wajiblah dirinya dihukum, sehingga tidak terulang lagi. Dengan demikian barulah obat itu berfaedah.

Lalu apa saja  tanda penyakit jiwa dan tanda sembuhnya?

Al-Ghazali meneruskan, "Setiap anggota badan mempunyai tugas sendiri. Kalau anggota itu tidak dapat lagi melakukan tugasnya, atau mulai kacau balau melakukan tugasnya, tandanya dia mulai sakit. Mata telah sakit kalau dia tidak dapat melihat atau kabur penglihatan. Tangan telah sakit kalau dia tidak dapat bekerja lagi atau menggigil kalau memegang sesuatu. Penyakit jiwa pun demikian, dan apabila dia tidak mampu lagi menuntut ilmu menyelami hikmat rahasia alam atau makrifat, atau tidak cinta lagi atau telah kurang cintanya kepada Allah, atau beribadah kepada Tuhan,
atau telah lupa dan dia lalai, hingga tidak merasa lagi kepuasan batin karena Dzikrullah."
Dia tidak merasa lagi bahwa itulah tujuan hidup yang sebenarnya. Tuhan berfirman,
"Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi kepada-Ku," (QS adz-Dzariyat [51]: 56).
Semuanya itu adalah alamat jiwa telah sakit.
Asal segala sesuatu ialah dari Allah, dan yang menjadikan
Asal segala sesuatu ialah dari Allah. "Meskipun segala sesuatu diketahuinya, tetapi pengetahuannya itu tidak sampai kepada
makrifat akan Allah, sama artinya dengan tidak mengetahu apa-apa!"
Tanda muhibbah (cinta) kepada Allah ialah bahwa seluruh cintanya hanya kepada Yang Satu saja, Allah.
Tak ada yang lain yang dicintainya, tidak dunia dan tidak pula segala sangkutan cinta yang lain.
Firman Tuhan,
"Katakanlah, Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perdangangan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah, maka runggulah sampai Allah memberikan keputusan Nya.' Dun Allah ridak memberi petunjuk kepada orang-
orang fasik." (QS at-Taubah 191: 24).
Siapu saja yang masih ada tempat hingga cintanya kepada yang selain Allah, tanda bahwa jiwanya telah sakit.
Ada penyakit badan yang tidak diketahui oleh si sakit apa namanya. Maka sakit jiwa pun ada juga yang tidak diketahui oleh si sakit. Si sakit tidak tahu bahwa dia sakit, sebab itu dilalai-lalaikannya saja berobat. Kalaupun dia tahu
jenis penyakit itu, tidak pula dia tahan meminum obat yang pahit, atau sukar baginya, sebab obat itu berlawanan dengan
syahwatnyu. Memang susah, tetapi ada juga orang yang diberi taufik oleh Tuhan.
Ada juga orang yang tahan meminum obat pahit, sayang dokter yang ahli untuk mengobati tidak ada. Maka dokter untuk pengobat sakit jiwa ialah ulama.

Adapun tanda-tanda bahwa jiwa mulai sehat kembali sesudah diobati dengan mengeluarkan harta dan menafkahkannya menurut yang pantas, sehingga tidak sampai kepada
boros. Karena yang dikehendaki dalam menegakkan budi ialah jalan tengah di antara keborosan dan kelainan.
Oleh karena jalan tengah sangat sulit ditempuh niscaya orang yang mendapat jalan lurus dan tengah (Shirathal Mustaqim) itu di dunia ini, wajib berusaha berjalan di atas jalan
lurus itu. Namun jarang yang terlepas dari ujian angin badai itu. Sedikit saja hati tercondong, payahlah melepaskan diri.
"Istiqamah", jalan lurus dan tetap, tidak membelok ke kiri kanan, adalah satu perjalanan yang sangat sulit. Meskipun demikian seorang insan wajib selalu berusaha, sekurang-kurangnya mendekati istiqamah.

Lalu, bagaimana cara mengenal kekurangan diri menurut buku ini?

Imam Ghazali meneruskan pula, Apabila Tuhan hendak memperbaiki keadaan hamba-Nya, diberi-Nya hamba itu peluang buat mengetahui cacat diri sendiri, sehingga dia berdaya upaya mengobatinya. Karena memang amat banyak jumlahnya orang yang tidak mengenal diri, "tak tahu diri".
Dilihatnya nyata kuman di pelupuk mata orang lain, dan kabur baginya melihat gajah di pelupuk matanya sendiri.
Untuk mengetahui kekurangan diri sendiri, hendaklah tempuh salah satu di antara empat cara:
1. Carilah seorang guru, pendidik yang berpandangan luas tentang ilmu jiwa dan mengerti cacat yang tersembunyi. Lalu turuti segala nasihat dan sarannya.
Pendeknya carilah guru dan jadilah murid yang setia meskipun kita tahu pula bahwa di zaman sekarang sukar benar mencari guru pendidikan seperti itu.
2. Carilah seorang sahabat karib yang jujur dan
berpandangan luas, lagi beragama. Mintalah kepada teman itu menunjuki kita, mana perangai atau perbuatan dan kelakuan kita yang buruk, baik lahir ataupun batin. Cara begini adalah yang selalu dilakukan oleh orang-orang besar dan para ulama Islam yang ternama.
3. Ambil faedah mengetahui cacat dari mulut musuh. Karena apabila orang telah benci, dia lekasvbenar dapat melihat cacat orang yang dibencinya, sebagaimana jika orang sedang sayang hanya melihat yang baiknya saja. Kebiasaan manusia ialah menyangkal segala tuduhan musuh, dan mencap musuh itu mencela kita, adalah lantaran dengki
saja. Maka orang yang arif bijaksana dapat jugalah mengambil faedah mengoreksi dirinya karena caci maki musuhnya, dengan menyisihkan mana yang benar dan mana yang bohong.
4. Bergaul dengan sesama manusia. Mana pekerjaan yang disukai oleh orang banyak, dapatlah diperiksa dan dibersihkan diri daripadanya. Pergaulan adalah
pendidikan sopan-santun yang baik sekali. Kalau semua manusia meninggalkan perbuatan tidak disukai orang, niscaya walaupun tidak ada seorang ahli pendidik yang mendidiknya, namun dia akan yang terdidik juga.

Wallahu a'lam
Semoga Allah memudahkan niat baik kita untuk mengamalkan ilmu yang telah didapat

#RCO8
#OneDayOnePost
#ReadingChallengeODOP8
#PengembanganDiri

22 Dzulqo'dah 1441 H

1 komentar:

Berat nih isi bukunya

REPLY

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates