Sabtu, 06 Januari 2018

 
Bismillaah


Menonton adalah salah satu kegiatan yang ternyata menjadi hobi bagi saya. Sedari kecil suka sekali jika sudah tiba waktu menonton televisi tiba, apalagi jika masa-masa ujian sekolah, hehe.


 
Namun sayangnya, saya baru mengetahui perbedaan istilah-istilah dalam tontonan itu saat masa sekolah menengah pertama, sebab dari kecil sudah salah kaprah dalam menyebut nama tontonan, apapun yang ditayangkan di televisi selain berita dan iklan itu namanya film.



Saya berkesempatan untuk kali pertama  menonton film sungguhan di bioskop langsung pada tahun 2016 kemarin. Waktu itu saya mendapatkan tiket gratis untuk menonton film wonderful life yang diangkat dari sebuah novel kisah nyata yang ditulis sekaligus dialami oleh Amalia Prabowo tentang anaknya yang bernama Aqillurachman Prabowo (Aqil), film Wonderful Life mengangkat tema parenting anak berkebutuhan khusus.




Film bergenre keluarga ini baru tayang serentak pada 13 Oktober 2016 di seluruh bioskop tanah air. Film ini disutradarai oleh Agus Makkie dan Jenny Jusuf selaku penulis skenarionya. Sementara di jajaran produser filmnya ada Angga Dwimas Sasongko, Handoko Hendroyono, dan Rio Dewanto. Digarap langsung oleh Rumah Produksi Film Visinema Pictures, Creative & Co. Sedangkan pemainnya banyak diisi aktor dan aktris kawakan. Banyak nama-nama yang sudah familiar di kancah perfilman tahan air. Seperti Atiqah Hasiholan berperan sebagai Amelia Prabowo, Lydia Kandou ibunya, Arthur Tobing sebagai ayahnya, tentunya juga sebagai kakek dari Aqil yang diperankan oleh Sinyo. Alex Abbad ia merupakan tangan kanan Amelia di kantornya, ada juga Totos Rasiti dan Abdurrahman Arif, keduanya sebagai tukang ojek perahu dan karakternya lucu. Ada juga

Didik Nini Thowok yang menjadi salah satu tabib pengobatan tradisional.

.

.

.

Dibesarkan oleh orang tua yang selalu menuntut anaknya berprestasi, Amalia seorang single-parent berusaha menerapkan prinsip yang sama juga kepada anaknya.

Namun nasib berkata lain. Aqil anak Amalia, justru memiliki kesulitan membaca dan menulis. Sepanjang pelajaran berlangsung pun, Aqil tidak pernah fokus mendengarkan gurunya, yang dikerjakan hanya lah menggambar tanpa pernah menyelesaikan tugas sekolahnya.

Nilai-nilainya di sekolah pun kurang baik dan dianggap tidak berprestasi, Aqil hanya menonjol pada mata pelajaran seni dan olahraga.

Setelah konsultasi ke dokter, ternyata Aqil divonis mengidap disleksia. Tidak terima dengan kenyataan ini, Amalia melakukan segala hal demi membuat anaknya sembuh dan bisa berprestasi di sekolah.

 
Mulai dari pergi ke terapis hingga mengunjungi berbagai orang pintar di pulau Jawa, semua dilakukan Amalia demi kesembuhan Aqil.
 

Perjalanannya untuk menyembuhkan Aqil agar dapat berprestasi pun membuat kariernya sebagai seorang CEO dan strategic planner di salah satu perusahaan keteteran dan terancam.


 Tekanan dari berbagai sisi dirasakan oleh Amalia. Dari keluarga, pekerjaan dan keadaan anaknya. Sempat putus asa, hingga akhirnya Amalia disadarkan untuk menyayangi dan mendukung apa yang menjadi kegemaran Aqil, bukannya memaksakan keinginan dan ambisinya terus menerus.

.

.

.

Film secara keseluruhan sudah bagus, apalagi para pemeran mampu menghidupkan  karakter yang diperankan. Nama-nama tenar pemainnya layak jadi jaminan bagusnya   akting mereka. Film ini juga menyimpan pesan moral agar para orang tua tersadarkan untuk memberi kebebasan kepada anak-anaknya memilih apa yang mereka gemari. Karena saat semua itu dilakukan dari hati, pasti mereka bisa menemukan kebahagiaan dan kesuksesan.

Namun, ada adegan tak logis yang dapat dikatakan fatal. Adegan tersebut saat ibu dan anak makan malam di warung pinggir jalan, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Setelah selesai makan dan hendak membayar, saat itu Amalia baru menyadari dompetnya tidak ada dalam tasnya –biasanya kehilangan sesuatu dibocorkan pada adegan sebelumnya, kalau seperti ini tiba-tiba hilang begitu saja.

Singkatnya, Amalia punya ide ‘nakal’ untuk kabur tanpa membayar semuanya. Dengan berpura-pura minta tisu sebagai pengalihan siatuasi dan ketika penjual masuk mengambil tisu, momen itulah yang digunakan mereka untuk kabur. Apa tidak ada solusi logis? Misalnya berterus terang kepada penjual guna mendapatkan solusi bersama, atau menyerahkan barang berharga bila dikonversi nilainya seimbang daripada harus berperilaku (maaf) seperti itu. Terlepas dari ending cerita yang ia mengirimkan amplop berisi uang sebagai pengganti dan sekalipun nominalnya besar sekali.

Ketimpangan berlanjut dengan adegan si penjual rela mengejar dengan motor bututnya. Sedangkan kecepatan motornya tak akan mampu melampaui laju mobil mereka. Mirisnya, adegan itu dibuat panjang dengan sehingga penonton seolah digiring untuk menertawakan ketidakmampuan penjual mengejar dengan motor bututnya dan melupakan adegan tak layak sebelumnya. Padahal Amalia bersama anaknya. Sangat disayangkan, apalagi ini film keluarga, Khawatirnya tindakan tadi adalah benar menurut anak-anak.

Terlepas dari kekurangan tersebut, film ini direkomendasikan untuk orang tua, tenaga pendidik atau calon orang tua dalam memahami kebutuhan anaknya. Setiap ada yang dikurangkan, pasti ada yang dilebihkan, sesuai tagline filmnya “..karena setiap anak terlahir sempurna”. Selamat menonton.

Wallahu alam bi shawab

#onedayonepost
#nonfiksi
#resensifilm 




1 komentar:

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates