Senin, 01 Januari 2018



Ghazwul fikri bermakna perang pemikiran, merupakan strategi perang selain perang fisik, face to face. Dalam arti luas, ghazwul fikri adalah cara atau bentuk penyerangan yang senjatanya berupa pikiran, tulisan, ide-ide, teori, argumentasi, dan propaganda.

Namun demikian ghazwul fikri tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari metode perang yang bertujuan akhir :

Jangka panjang:
🔹Pemurtadan.
Sesuai dengan firman Allah, "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian hingga kalian murtad dari agama kalian jika mereka mampu." (QS. Al-Baqarah : 217).

Jangka pendek:
🔹Pelarutan kepribadian (tidak bangga dengan identitas muslim) seperti dikatakan dlm Al Qur’an,
"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)" (QS. An-Nisa [4] : 89),
🔹Pemerosotan akhlak (dekadensi moral),
🔹Pemikiran liberal,
🔹Pelucutan akidah dalam arti tidak masalah secara identitas agamanya Islam tapi perilaku sehari-harinya jauh dari tuntunan Islam.
Masihkah kita ingat nubuwah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  tentang umat islam di akhir zaman ibarat hidangan di atas piring yg menjadi rebutan orang-orang kafir utk memakannya padahal pd saat itu umat islam berjumlah banyak, namun seperti buih di lautan, tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh.

Ya, itulah gambaran kita saat ini. Di dunia ini, satu setengah milyar lebih penduduk bumi adalah Muslim. Tapi penindasan kepada umat islam terjadi dimana-mana, diskriminasi, pembunuhan, pembantaian, sudah menjadi hal biasa di negara dengan penduduk islam.
Umat islam tidak lagi ditakuti karena kebanyakan mengidap penyakit Al Wahn yaitu penyakit cinta dunia dan takut terhadap kematian. Laa hawla wa laa quwwata illa billaah.

Umat islam ada yang memandang bahwa dunia ini adalah tempatnya segala kesenangan, dan kematian adalah pemutus kesenangan tersebut. Sehingga mereka menghindari kematian dengan berbagai cara, salah satunya dengan enggan berjihad fi sabilillah.

Penyakit al wahn ini tentu tidak datang begitu saja. Inilah hasil dari strategi Ghazwul Fikri. Sehingga daya juang & kepedulian umat islam terhadap saudaranya sesama muslim melemah bahkan mungkin sudah tidak peduli lagi. Padahal ini berkaitan erat dengan keimanan. Di antara tanda iman yang wajib adalah seseorang mencintai saudaranya yang beriman sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Mungkin kita  pernah mendengar atau membaca, tentang bagaimana cara mengambil Alquran yang berada di tengah karpet, tanpa harus menginjak karpet tersebut?
Seperti itulah  umat islam saat ini ibarat karpet yang digulung.
Pelan-pelan digulung, pelan-pelan dilipat, hingga umat islam tidak sadar bahwa mereka sedang dilemahkan dari berbagai sisi. Sisi ekonomi, sisi akidah, sisi politik, sisi syariat dan sebagainya
Umat islam dilenakan dan terlena dengan berbagai tipu daya dari para musuh islam. Hingga tidak peduli lagi apabila akidah tergadai, sholat terlewat, tidak mempunyai pemimpin islam, umat islam banyak yang miskin terlilit hutang riba dan masih banyak hal lain
Sebetulnya Iblis-lah peletak dasar ghazwul fikri. Bagaimana uletnya Iblis melakukan pendekatan kepada Adam alaihissalam dan Hawa dengan berperan seperti musang berbulu domba. Berpura-pura baik, bahkan ingin dikesankan sebagai penasehat setia. Strategi demi strategi terus dilancarkan tanpa pernah mengenal putus asa. Semata karena Iblis sudah terlanjur akan menjadi penghuni neraka yang paling kekal. Maka dia akan memanfaatkan kesempatan hidup di dunia ini dengan mencari teman sebanyak-banyaknya untuk kelak menjadi penghuni neraka.
Lalu, siapakah sasaran paling empuk dari program ghazwul fikri ini?

Ya, mereka menyasar para remaja muslim dan muslimah, yang cenderung masih mudah diarahkan dan diwarnai. Berbicara remaja maka tentu paling mudah dengan 3F , Food-Fun-Fashion alias Makanan-Hiburan-Pakaian.
Melalui Food, para penyebar ghazwul fikri membuat Muslim tidak peduli dengan konsep halal, sekaligus membanjiri produk haram bagi Muslim. Juga tidak peduli dengan tempat mereka makan yang notabene memberikan keuntungan bagi Israel untuk membantai muslim Palestina, seperti McD dan Starbucks Coffee

Melalui fun, remaja islam digiring untuk pacaran, mereka disalahpahamkan bahwa pacaran sebelum menikah itu tidak apa-apa karena sebagai jalan untuk saling mengenal. Bahkan aktivis dakwah pun ada yang terjebak dalam taaruf tapi pacaran atau "pacaran Islami" . Mereka belum siap nikah tapi ikhwannya sudah memvonis bahwa si akhwat  "miliknya"  dan beberapa tahun lagi akan di lamar. Atau kedoknya taaruf tapi berduaan, di sosial media, via sms, via telepon, saling mengingatkan sudah makan belum, sudah shalat belum, sudah tilawah belum, jangan lupa tahajud dan dhuha, besok shaum ya, jangan lupa sedekah dan lain sebagainya seolah-olah mengingatkan untuk ibadah tapi nyatanya ini bentuk lain dari pacaran.
Melalui fun juga, umat islam digiring untuk memaklumi hasrat terkutuk kaum LGBT yang mempropagandakan bahwa mencintai dan menikah dengan sesama jenis itu tidak apa karena kecenderungan suka pada sesama jenis itu takdir Allah. Allah yang menghendaki mereka demikian ketika dilahirkan ke dunia jadi harus diterima dengan tangan terbuka. Dengan bangga mereka memproklamirkan diri, "Saya islam taat & saya gay", "Saya berjilbab & saya lesbi".

Yang lebih gila lagi, setelah kaum LGBT minta dilegalisasi dan beberapa negara barat sudah merealisasikan tuntutan mereka, kini kaum dengan perilaku terkutuk lain minta dilegalisasi juga pernikahannya yaitu di Jerman komunitas Incest (perkawinan sedarah) dan di Amerika komunitas pedofilia (berhubungan seks dengan anak-anak) .... Naudzubillahimin dzalik
Melalui  fashion, penyebar ghazwul fikri menuntun pikiran remaja bahwa pakaian itu aktualisasi diri dan gaya hidup, bukan penutup aurat. Hijab syar’i dikira kuno karena tak menarik dan muslimah berlomba berpakaian untuk menarik perhatian. Apalagi ketika hijab syar'i sudah menjadi life style namun tidak dibarengi dengan pemahaman dan akhlak yang baik.
Inilah hasil perencanaan kaum yahudi (fremasonry dan illuminate) melalui apa yg disebut The New World Order atau Tatanan Dunia Baru. Salah satu rencana mereka adalah menghilangkan ikatan keluarga normal yang terdiri dari ayah, ibu, anak. Mereka gencar berkampanye agar homoseks, lesbian, biseks, transgender dll legal menikah agar tak ada lagi keluarga yg melahirkan anak-anak, terutama di umat islam. Lama-lam habis generasi penerus islam, itu cita-cita mereka.
Semua serangan pemikiran ini tujuannya satu, agar Muslim menjauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sumber kekuatan, hingga mereka lemah.
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. [QS. al-Baqarah (2) : 120].

Masihkah kita tidak peduli dengan bahaya ghazwul fikri yang sudah menyelusup hingga ke ruang keluarga di rumah kita?
Akankah kita berdiam diri melihat begitu banyak kehancuran generasi muda islam di depan mata kita?

Semoga jawaban nya adalah T I D A K. Minimal kita lindungi keluarga kita dari pengaruh negatif televisi & lingkungan pergaulan.
Selain itu kita tingkatkan pemahaman keislaman kita secara sempurna. Jangan pernah ragu-ragu untuk menampakkan identitas keislaman kita. Dan jangan lupa selalu membaca dan mengkaji Al-quran, sunnah dan hadist karena itulah kekuatan utama umat islam.
Wallahu alam bi shawab
Sumber : Kajian Umum Shalihah oleh Ustadzah Popy Fauziah

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates