Selasa, 16 Januari 2018

Disaat terakhir kehidupan Nabi Adam 'alaihissalam. Para Malaikat memandikannya, memberinya wangi-wangian, mengkafaninya, menggali kuburnya, menshalatkannya,
menguburkannya dan menimbunnya dengan tanah.
Mereka melakukan itu untuk memberikan pengajaran kepada anak cucu sesudahnya, tentang bagaimana caramenangani orang mati.

NASH HADIS

Dari Uttiy bin Dhamurah As-Sa'di berkata, "Aku melihat
seorang Syaikh di Madinah sedang berbicara. Lalu aku
bertanya tentangnya." Mereka menjawab, "Itu adalah Ubay bin Kaab." Ubay berkata, "Ketika maut datang menjemput Adam, dia berkata kepada anak anaknya,
'Wahai anak-anakku, aku ingin makan buah Surga." Lalu anak-anaknya pergi mencari untuknya. Mereka disambut oleh para Malaikat yang telah membawa kafan Adam dan wewangiannya. Mereka juga membawa kapak, sekop, dan cangkul.
Para Malaikat bertanya, "Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?" Mereka menjawab, "Bapak kami sakit, dia ingin makan buah dari Surga." Para Malaikat menjawab, "Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah
tiba." Lalu para Malaikat datang. Hawa melihat dan mengenali mereka, maka dia berlindung kepada Adam. Adam berkata kepada Hawa, "Menjauhlah dariku. Aku pernahmelakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan Malaikat Tuhanku Tabaraka wa Taala." Lalu para Malaikat mencabut nyawanya, memandikannya,
mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan
kuburnya dengan membuat liang lahat di kuburnya,
menshalatinya. Mereka masuk ke kuburnya dan
meletakkan Adam di dalamnya, lalu mereka meletakkanbata di atasnya. Kemudian mereka keluar dari kubur,mereka menimbunnya dengan batu. Lalu mereka
berkata, "Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian."

TAKHRIJ HADIS

Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad
dalam Zawaidul Musnad, 5/136.
Ibnu Katsir setelah menyebutkan hadis ini berkata,
"Sanadnya shahih kepadanya." (Yakni kepada Ubay bin
Kaab). Al-Bidayah wan Nihayah, 1/98.
Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad. Rawi-rawinya adalah rawi-rawi hadis shahih,
kecuali Uttiy bin Dhamurah. Dia adalah rawi tsiqah."
_Majmauz Zawaiz, 8/199_

Hadis ini walaupun mauquf (sanadnya tidak sampai pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam) pada Ubay bin Kaab, tetapi mempunyai kekuatan hadis marfu’, karena perkara seperti ini tidak membuka peluang bagi akaluntuk mengakalinya.

PENJELASAN HADIS

Hadis ini menceritakan berita bapak kita, Adam manakala maut datang menjemputnya -Adam rindu buah Surga. Ini menunjukkan betapa cinta Adam kepada Surga dan kerinduannya untuk kembali kepadanya. Bagaimanadia tidak rindu Surga, sementara dia pernah tinggal di dalamnya, merasakan kenikmatan dan keenakannya untuk beberapa saat. Bisa jadi keinginan Adam untuk makan buah Surga
merupakan tanda dekatnya ajal. Sebagian hadis
menyatakan bahwa Adam mengetahui hitungan tahun-
tahun umurnya. Dia menghitung umurnya yang telah berlalu. Nampaknya dia mengetahui bahwa tahun-tahunumurnya telah habis. Perpindahannya ke alam Akhirattelah dekat. Dan tanpa ragu, Adam mengetahui bahwa
anak-anaknya tidak mungkin memenuhi permintaannya.
Mana mungkin mereka bisa menembus Surga lalu
memetik buahnya. Anak-anak Adam juga menyadari hal
itu. Akan tetapi, karena rasa bakti mereka kepada bapak
mereka, hal itulah yang mendorong mereka untuk
berangkat mencari.
Belum jauh anak-anak Adam meninggalkan bapaknya,
mereka telah dihadang oleh beberapa Malaikat yang
menjelma dalam wujud orang laki-laki. Mereka telah
membawa perlengkapan untuk menyiapkan orang mati.
Para Malaikat memperagakan apa yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap jenazah seperti pada hari ini.
Mereka membawa kafan, wewangian, juga membawa
kapak, cangkul, dan sekop yang lazim diperlukan untuk
menggali kubur.
Ketika anak-anak Adam menyampaikan tujuan mereka dan apa yang mereka cari, para Malaikat meminta mereka untuk pulang kepada bapak mereka, karena bapak mereka telah habis umurnya dan ditetapkan ajalnya.
Manakala para Malaikat maut datang kepada Adam,
Hawa mengenalinya sehingga dia berlindung kepada Adam. Sepertinya Hawa hendak membujuk Adam agar memilih hidup di dunia, karena para Rasul tidak diambil nyawanya sebelum mereka diberi pilihan (antara kehidupan dunia dan Akhirat .pen) sebagaimana yang
disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam
kepada kita. Adam tidak menggubris dan menghardiknya dengan berkata, "Menjauhlah dariku, karena aku pernah
melakukan dosa karenamu." Adam mengisyaratkan
rayuan Hawa untuk makan pohon yang dilarang semasa keduanya berada di Surga.
Para Malaikat mengambil ruh Adam. Mereka sendirilah
yang mengurusi jenazahnya dan menguburkannya,
sementara anak-anak Adam melihat mereka. Para
Malaikat itu memandikannya, mengkafaninya, memberinya wangi-wangian, menggali kuburnya, membuat liang lahat, menshalatinya, masuk ke kuburnya, meletakkannya di dalamnya, lalu mereka
menutupnya dengan bata. Kemudian mereka keluar darikubur dan menimbunkan tanah kepadanya. Para Malaikat mengajarkan semua itu kepada anak-anak Adam. Mereka berkata, "Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian."
Yakni, cara yang Allah pilih untuk kalian dalam hal
mengurusi mayat kalian.
Cara ini adalah syariat umum yang berlaku untuk seluruh
Rasul dan semua orang beriman di bumi ini, mulai sejak saat itu sampai sekarang. Dan cara apa pun yang menyelisihinya berarti menyimpang dari petunjuk Allah, yang besar kecilnya tergantung pada kadar
penyimpangannya. Barang siapa melihat tuntunan kaummuslimin dalam urusan jenazah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, maka dia pasti melihat kesamaan antara hal itu dengan perlakuan para
Malaikat kepada Adam.
Sepanjang sejarah, petunjuk ini telah banyak diselisihi
oleh sebagian besar umat manusia. Ada yang membakarorang mati. Ada yang membangun bangunan-bangunan megah, seperti piramid, untuk mengubur orang mati dengan meletakkan makanan, minuman, mutiara dan perhiasan bersamanya. Ada yang meletakkan mayit di kotak batu atau kayu. Semua itu menuntut biaya yangmahal dan hanya membuang-buang energi untuk sesuatuyang tidak berguna. Dan yang paling utama, semua itu telah menyelisihi petunjuk yang Allah syariatkan kepada mayit Bani Adam.

PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS

1. Disyariatkan menyiapkan mayit dan menguburkannya
seperti disebutkan di dalam hadis.

2. Sunnah terhadap mayit adalah petunjuk semua Rasul dalam setiap syariat mereka.

3. Pengajaran Malaikat kepada anak-anak Adam tentang sunnah ini dengan ucapan dan perbuatan.

4. Semua cara menangani mayit selain cara yang
disebutkan di dalam hadis di atas adalah penyimpangan dari manhaj dan petunjuk Allah.

5. Keutamaan bapak kita Adam, di mana para Malaikat mengurusi jenazahnya, menshalatkannya dan
menguburkannya.

6. Kemampuan para Malaikat untuk menjelma menjadi
manusia dan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh
manusia.

7. Sudah munculnya beberapa peralatann sejak zaman manusia pertama, seperti kapak, cangkul dan sekop.

8. Seseorang harus berhati-hati terhadap istrinya yang
bisa menjadi penyebab penyimpangannya. Adam
memakan buah karena hasutan Hawa. Dan Allah
telah meminta kita agar berhati-hati terhadap
sebagian istri dan anak-anak kita, "Sesungguhnya di
antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang
menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah
terhadap mereka." (QS. At-Thaghabun: 14)

Wallahu 'alam bi shawab
Sumber: Maktabah Abu Salma Al Atsari

#30harimenulis
#nonfiksi
#onedayonepost

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates