Selasa, 19 Desember 2017

Lagi dan lagi, dunia sosial media memang mempunyai sisi negatif dan positif tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kali ini, saya ingin berbagi keseruan percakapan tanya jawab di sebuah grup whatsapp terkait hukum shalat bagi orang yang keguguran.

Tanya : "Mak, maaf, mau tanya, kalau  keguguran atau juga dikuret, yang usia kandungannya dibawah 4 bulan,  darahnya dihukumi bagaimana, tetap sholat atau tinggalkan sholat?"

Jawab: "Seharusnya yang keguguran dibawah 4 bulan tidak harus dikuret karena janin belum bernyawa,  dan masih berupa segumpal darah,  belum melekat di rahim."

Tanya : "Lalu bagaimana dengan kewajiban shalat?"

Jawab: "Jika masih pendarahan,  tidak perlu shalat dulu, tetapi jika sudah selesai darahnya,  mandi dan sholatlah.
Tidak terkena hukum nifas."

Tanya: "Temen saya, masih pendarahan tapi sholat, kata dia, selama janinnya belum 4 bulan, kalau keguguran, walaupun masih ada darahnya, harus sholat
Apa ada dalilnya?"

Jawab : "Janin itu telah memiliki bentuk jika telah berumur delapan puluh hari atau dua bulan dua puluh hari, bukan empat bulan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud yang terkenal, ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami.

'Artinya : Sesungguhnya seseorang di antara kalian dipadukan bentuk ciptaanNya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk air mani, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari pula (maka inilah masa empat bulan) kemudian Allah mengutus malaikat kepadanya...."
Jadi pastikan dulu kehamilannya sudah berapa bulan.
2 bulan 20 hari itu sudah berbentuk.
Nah, 4 bulan itu peniupan ruh.
40 hari pertama segumpal darah (‘alaqah),
40 hari kedua segumpal daging (mudghah), setelah 80 hari ini mulai terbentuk rupa yang menjadi patokan di atas (batas minimal)

40 hari ketiga ditiupkan ruh (120 hari atau 4 bulan).

1. Darah nifas yaitu jika yang keluar sudah berbentuk manusia. Dalam keadaan ini wanita yang keguguran tidak boleh melakukan apa-apa yang dilarang bagi wanita yang sedang nifas, seperti tidak boleh shalat, tidak boleh berpuasa, dan tidak boleh digauli oleh suami.

2. Darah rusak (fasad), yaitu jika yang keluar tidak berbentuk manusia. Dalam hal ini hukum darah tersebut tidak mengikuti hukum nifas, tapi hukum darah rusak (fasad) atau darah istihadhah. Maka wanita yang keguguran dihukumi sebagai wanita suci, yakni tetap wajib melaksanakan shalat, berpuasa Ramadhan, dan boleh digauli oleh suami. ( Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Fatwa-Fatwa Tentang Wanita ).

Adapun batas usia kandungan yang sudah berbentuk manusia adalah 40 (empat puluh) hari. Dalil syar’i yang menunjukkan bahwa pada usia kandungan 40 hari atau 40 malam sudah menunjukkan ciri-ciri fisik yang berbentuk manusia, adalah hadits Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wasallam  berikut :

'Jika nutfah (zigote) telah lewat empat puluh dua malam [dalam riwayat lain ; empat puluh malam], maka Allah mengutus seorang malaikat padanya, lalu dia membentuk nutfah tersebut; dia membuat pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulang belulangnya. Lalu malaikat itu bertanya (kepada Allah),’Ya Tuhanku, apakah dia (akan Engkau tetapkan) menjadi laki-laki atau perempuan ?’ Maka Allah kemudian memberi keputusan…'
(HR. Muslim, dari Ibnu Mas’ud RA)
Maka dari itu, jika kandungan usia 40 hari sudah ada bentuk manusianya."

Tanya : "Dari penjelasan  yang  dipublikasikan, kalau saya buat kesimpulan ini benarkah ?"

A. Jika keguguran, usia janin berumur 40 hari, atau dibawah 40 hari , maka tetap wajib sholat (darah Istihadhah)."

B. Jika keguguran, usia janin sudah lebih dari 40 hari, maka tidak boleh sholat (darah nifas)."

Jawab : "Naam,  di hukumi darah nifas tapi tidak harus 40 hari lamanya. Jika sudah bersih maka mandi dan shalatlah."

Tanya: "Oh gitu, masyaAllah.
Ternyata harusnya ana sholat ya waktu itu."

Jawab: "Perbanyak istigfar."

Tanya: "Oh tidak perlu diqhada sholatnya ya?"

Jawab: "Jika ingat jumlahnya,  maka qodholah."

Tanya‬: "Kalau lupa jumlahnya, apakah boleh dikira-kira saja?
Terus niat sholatnya bagaimana, apa dilakukan sesuai pada waktu-waktunya?
Misal shubuh diwaktu shubuh, setelah selesai sholat subuh.
Begitu?"

Jawab‬: "Misalnya setelah sholat dzuhur,dilanjut dengan sholat qodho dzuhur yang terlewat,dengan niat qodho,kalo sanggup di teruskan berulang ulang, sampai merasa sudah tidak ada hutang lagi."

Tanya‬: "Apa waktu zhuhur untuk qodho zhuhur saja?"

Jawab: "Sesuai dengan waktu sholat,apabila shubuh untuk qodho shubuh seterusnya begitu."

Tanya : "Apa boleh diqadha sekaligus?"

Jawab : "Boleh,sekuatnya,jika sanggup menyelesaikan dalam satu waktu itu sangat bagus,tapi jgn sampai pada saat matahari sdh nampak,nanti keasyikan meng qodho,lupa kalo sdh datang waktu dilarang untuk sholat shubuh lagi."

Tanya : "Afwan... pernag denger katanya sholat itu ga bisa di qodho."

Jawab : "Dalam kitab fiqih Sunnah Sayyid Sabiq  Menggadha Sholat diterangkan, menurut madzhab jumhur termasuk disini Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’i mengatakan orang yang sengaja meninggalkan sholat itu berdosa dan ia tetap wajib mengqadhanya.

Adapun orang yang sengaja meninggalkan shalat hingga keluar waktunya, maka ia tidak akan bisa mengqadhanya sama sekali. Maka yang ia lakukan adalah memperbanyak perbuatan amalan kebaikan dan shalat sunnah. Untuk meringankan timbangannya di hari kiamat. Dan hendaknya ia bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla” (Al Muhalla, 2/10, Asy Syamilah).

Qodho hanya berlaku untuk seseorang  yang uzur dan terlupa.
Orang-orang yang tidak perlu mengqodho’ sholat :
1. Orang yang haid
2. Orang yang nifas
3. Orang yang kafir
4. Orang gila (hilang akal seumur hidup)."

Wallahu 'alam bi shawab

1 komentar:

MasyaAllah... Terima kasih untuk sharing ilmunya ya ^^

REPLY

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates