Minggu, 31 Desember 2017

Seorang penderita difteri yang diketahui sedang mengandung meninggal dunia saat mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dokter Slamet, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Peristiwa memilukan itu terjadi kemarin. Peristiwa ini menambah panjang daftar korban meninggal akibat penyakit difteri.

Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. 

Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti :
1.   Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum. 
2.      Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk. 
3.      Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.


Gejala Difteri
Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:
  
1. Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel. 
2. Demam dan menggigil. 
3. Sakit tenggorokan dan suara serak. 
4. Sulit bernapas atau napas yang cepat. 
5. Pembengkakan kelenjar limfe pada leher. 
6. Lemas dan lelah. 
7. Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Perawatan bagi penyakit ini termasuk antitoksin difteri, yang melemahkan toksin dan antibiotik. Eritromisin danpenisilin membantu menghilangkan kuman dan menghentikan pengeluaran toksin. Membuat lubang pada pipa saluran pernapasan atas(tracheotomy) mungkin perlu untuk menyelamatkan nyawa. Umumnya difteri dapat dicegah melalui vaksinasi.


Penyakit yang sempat dinyatakan pernah menghilang dari Indonesia di tahun 1990 kini menjadi kasus terbanyak dunia di tahun 2017 ini.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Pulungan mengatakan faktor yang menyebabkan difteri kembali muncul dan mewabah di Indonesia ialah menurunnya imunitas suatu kelompok yang diakibatkan dari beberapa hal. Beberapa hal tersebut antara lain adanya program imunisasi yang tidak lengkap, program imunisasi yang tak tercapai sempurna, adanya gerakan antivaksin di masyarakat, tidak adanya pelaksanaan vaksin tiap kurun waktu 10 tahun, dan kesadaran masyarakat yang sangat kurang tentang bahaya penyakit difteri.

Apalagi memasuki awal tahun seperti ini, menggunakan terompet biasanya dilakukan pada malam Tahun Baru, untuk memeriahkan acara itu rawan menularkan penyakit difteri. Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa penggunaan terompet yang secara bergantian berpotensi terjadinya penularan penyakit difteri.
Elizabeth mengatakan penularan penyakit difteri biasanya terjadi melalui percikan ludah. Oleh karena itu, penularan difteri melalui terompet dimungkinkan terjadi, karena percikan ludah dapat keluar saat seseorang meniup terompet.
Namun, Elizabeth menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu takut bergantian meniup terompet apabila telah diimunisasi. Elizabeth yakin mereka yang telah diimunisasi akan kebal terhadap penyakit difteri dari berbagai pola penularan.

Menurut mantan wakil menteri kesehatan (Wamenkes) pada Kabinet Indonesia Bersatu II, Ali Ghufron Mukti. Edukasi, sosialisasi dan penyadaran kepada masyarakat tentang bahaya dan upaya pencegahan difteri harus terus ditingkatkan. Terutama, di daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri.
Misalnya di tempat umum seperti di masjid atau pengajian atau tempat umum lain bisa digunakan untuk sosialisasi tentang difteri.

#onedayonepost
#nonfiksi
#tantanganartikel3

3 komentar

Mencegah lebih baik daripada mengobati,mari imunisasi DPT

REPLY

Terompet malah dijadikan kambing hitam. Sy kasian sama penjual terompet

REPLY

Pro dan kontra pasti terjadi. Tinggal bagaimana kita menyikapinya

REPLY

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates