Selasa, 26 Desember 2017



Narasumber     : “Dari diskusi singkat tadi kita jadi sama sama memahami bahwa ternyata membuat siswa siap untuk menerima pelajaran itu tak kalah penting dengan konten materi yang akan dibawakan. Pemilik media bisnis nomor wahid, Marcolm Forbes pernah berkata, ‘Presence is more than just being there.’ - kehadiran itu lebih dari sekedar berada di tempat itut. Saat siswa kita hadir di dalam kelas bukan berarti pikiran dan hatinya ada di kelas. Sebagian mungkin ada yang pikirannya masih melayang-layang pada makanan enak di kantin yang gagal ia beli karena mengantri. Sebagiannya lagi bisa jadi ada yang pikirannya masih mengawang-awang di atas kasur rumahnya yang empuk dan nyaman. Boleh jadi hanya segelintir siswa yang pikiran dan hatinya bersama kita di ruang belajar. 



Oleh karena itu sebagai pendidik, sebagai fasilitator, kita perlu melakukan upaya menghadirkan jiwa, pikiran dan raga mereka di dalam ruang belajar bersama kita. Bagaimana caranya? Konsepnya sederhana saja. Perlu ada sebuah aktivitas yang membuat siswa sadar bahwa mereka sedang berada di ruang belajar dan akan belajar dalam beberapa puluh menit berikutnya. Perlu ada aktivitas yang 'mendobrak' kesadaran mereka sehingga mereka siap meninggalkan alam pikiran mereka sebelumnya dan memasuki alam belajar bersama kita.


Sebagai contoh, saat saya menghadapi kondisi yang dipaparkan oleh moderator di awal, saya menerapkan aktivitas bakar sampah emosi sebelum memulai pelajaran di kelas. Kebetulan karena siswa di kelas yang saya ampu memiliki ketertarikan dengan konten islami, sebelum memulai aktivitas saya adakan dialog singkat.

Saya (Sa)         : ‘Gais, menurut kalian belajar itu baik atau buruk?’

Siswa (Si)        : ‘Baiiiikkk’

Sa                    : ‘Kenapa belajar itu baik?’

Si                     : ‘Karena mencari ilmu itu termasuk amalan yang dimuliakan Allah pak’

Si                     : ‘Karena bisa jadi pinter’

Si                     : ‘Karena bisa minterin orang pak’

Sa                    : ‘Ok, kalau hal baik setan suka ga?’

Si                     : ‘Engggaaaa’

Sa                    : ‘Jadi kalo kita mau belajar biasanya setan ngapain?’

Si                     : ‘Gangguin pak.’
 
Sa                    : ‘Gimana cara mereka gangguin?’

Si                     : ‘Yaa... dibuat ngantuk’

Si                     : ‘Dibikin laperr paaak.’

Si                     : ‘Dibuat ga suka sama pelajarannyaa’

Sa                 : ‘Nah, banyak kan? Makanya biar itu srtan pada ilang semua. Bapak minta kalian keluarkan kertas dan tuliskan semua 'bisikan setan' yang ada pada diri kalian. Tulis semua hal negatif yang kira-kira akan mengganggu kalian selama belajar di kertas itu. Kalau sudah Bapak minta masukkan kertas itu di wadah ini.’

Lalu mereka pun menuliskan di kertas yang sudah saya bagikan di awal danmemasukkannya ke dalam loyang kue bolu yang sudah saya beri spiritus di dalamnya. Setelah semua terkumpul selanjutnya saya bakar seluruh kertas itu dan membiarkan api menyala-nyala.

‘Nah, semua hal buruk yang akan mengganggu belajar kalian sudah kita bakar. Jadi setelah ini kita berharap ga ada lagi yang ngantuk, yang usil, yang ngomel-ngomel, yang berantem ama temennya dan laen laen. Kalo ada, berarti setannya belum ilang. Nanti bakalan Bapak ruqyah.’, ujar saya menutup aktivitas pembuka di hari itu diiringi tawa para siswa.

Setelah itu aktivitas pembelajaran berjalan seperti biasa. Siswa tetap belajar di dalam kelas, dengan angin sepoi-sepoi. Sama seperti sebelumnya. Yang berbeda adalah mereka sudah lebih terkondisikan.



Lalu bagaimana hasilnya ketika menerapkan teknik tersebut? Hasilnya sangat membantu. sekitar 70-80% siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa yang tampak masih belum bisa 100% fokus dengan pembelajaran. Namun demikian saat ada siswa yang terlihat 'meleng' atau tidak fokus saya dekati lalu saya ingatkan bahwa hal-hal buruk yang menjadi penghalang fokus belajarnya sudah hilang bersama api. Jadi saya lebih mudah mengajak siswa untuk memfokuskan diri.
Nah, Aktivitas di atas sebenarnya hanyalah salah satu contoh aktivitas pembuka kelas yang bisa kita lakukan untuk membuat siswa lebih siap belajar bersama kita. Ada banyak sekali bentuk aktivitas lainnya yang bisa kita lakukan. Kombinasi dan model nya bisa tidak terbatas.


Semua tergantung kreativitas dan tentunya kesediaan kita sebagai pendidik menghadirkan pengalaman belajar terbaik bagi kita dan siswa.



Untuk mempermudah dalam merancang, menurut saya setidak-tidaknya aktivitas tersebut:

1. Melibatkan seluruh siswa.
Pastikan tidak ada siswa yang pasif atau tidak terlibat. Lakukan komunikasi persuasif agar mereka kooperatif.

2. Mewakili kesepakatan siswa secara simbolis bahwa mereka siap untuk belajar. Ini modelnya juga macam-macam.

3. Tidak memerlukan waktu yang lama (agar waktu belajar tidak tersita).
Kita perlu ingat ini adalah aktivitas pembuka, bukan aktivitas utama.
Ibarat menikmati jamuan makan malam di hotel bintang lima, aktivitas pembuka itu ibarat appetizer alias makanan penggugah selera.
Jangan sampai siswa 'kenyang' Sebelum menikmati hidangan utama.”




Diskusi pun terus berlanjut sampai jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Saya yang tidak kuat menahan kantuk memutuskan untuk menutup aplikasi sebelum diskusi diakhiri moderator. Semoga apa yang didapat hari itu bisa saya praktekkan nantinya minimal saat membersamai buah hati. Aamiin


Wallahu “alam bi shawab

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates