Rabu, 27 Desember 2017

Bismillaah

Kecerdasan, bahwasannya tidak terpatri pada batas tertentu dan terbatas pada saat seseorang lahir. Setiap orang dapat mengembangkan kecerdasan dengan beragam cara yang dikenal dengan multiple intelligence.

Tahun 1980, Howard Gardner mengembangkan sebuah konsep mengenai ragam kecerdasan. Menurut konsep tersebut, manusia perlu untuk menyerap dan memproses berbagai tipe informasi yang berbeda.

Ada beberapa pokok pikiran yang dikemukakan oleh Gardner, yaitu:
1. Manusia mempunyai kemampuan meningkatkan dan memperkuat kecerdasannya.
2. Kecerdasan selain dapat berubah, dapat pula diajarkan kepada orang lain.
3. Kecerdasan merupakan realita majemuk yang muncul di bagian-bagian yang berbeda pada sistem otak atau pikiran manusia.
4. Pada tingkat tertentu, kecerdasan ini merupakan suatu kesatuan yang utuh. Artinya dalam memecahkan masalah atau tugas tertentu, seluruh macam kecerdasan manusia bekerja bersama-sama, kompak dan terpadu.

Ada 8 kecerdasan yang secara alamiah dibawa oleh manusia ketika lahir.   Dalam perjalanannya, akan ada beberapa kecerdasan yang mungkin menonjol dibanding lainnya.


Apa saja kedelapan kecerdasan itu?

Gardner telah membagi kecerdasan menjadi 8 jenis yang secara alamiah dibawa oleh manusia ketika lahir , yaitu :

1. Kecerdasan linguistik (Linguistic intelligence)

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata – kata secara efektif baik secara oral maupun secara tertulis. Bagian otak yang bertanggung jawab untuk kecerdasan ini disebut broca area.

Ciri-ciri anak cerdas linguistik yang dapat kita amati adalah: lebih awal berbicara dibanding anak lain, suka berargumentasi, suka menulis, suka melucu atau menghibur dengan kata-kata, mudah menghapalkan kata atau tempat baru, suka mengsi teka teki silang, suka mengumpulkan kosa kata baru, membuat kalimat plesetan, mengarang atau mengajar, serta unggul dalam membaca dan menulis.

Cara melatih anak untuk mengembangkan kecerdasan ini bisa dengan cara:
• Usia 3 – 6 bulan, anak bisa diajak bermain “cilukba”.

• Pada usia 6 – 9 bulan distimulasi dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, mengenalkan bentuk – bentuk.

• Pada usia 9 – 12 bulan, ditambah dengan mengulang – ulang menyebutkan mama papa, kakak dan lain – lain. Selain itu bisa juga mengajak anak bercakap – cakap, menceritakan kembali dongeng, berbicara dengan orang tua dan teman sepermainan serta menyanyikan lagu anak – anak.

Bagaimana untuk usia 1 tahun ke atas?

Anak bisa belajar untuk menceritakan gambar yang dia buat.

Bisa juga dengan menceritakan kembali apa yang anak lihat dalam perjalanan.

Atau bisa juga mengajak anak untuk bermain sandiwara.

2. Kecerdasan musikal (Musical intelligence)

Kecerdasan musikal adalah kemampuan anak untuk mengembangkan , mengekspresikan dan menikmati bentuk – bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi, dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik. Bagian otak yang memproduksi kemampuan ini terletak di bagian otak kanan. Ciri-ciri anak yang cerdas musik adalah: mampu bernyanyi dengan nada dan tempo yang benar, suaranya tidak sumbang, mudah mengikuti melodi, suka memainkan alat musik tertentu dan mudah terbawa perasaannya jika mendengarkan musik atau nyanyian.

Stimulasi sederhana adalah mendendangkan lagu atau salawat sejak anak dalam kandungan. Setelah itu bisa di kenalkan pada bunyi – bunyian seperti tetesan air hujan, dentingan gelas dan piring, tepuk tangan dan sebagainya.

Untuk anak usia di atas 2 tahun, bisa dikenalkan dengan alat-alat musik sederhana.

3. Kecerdasan matematis-logis (Logical – mathematical intelligence)

Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika . Anak – anak dengan kecerdasan matematis – logis tinggi biasanya memperlihatkan minat besar pada kegiatan eksplorasi, senang bertanya tentang berbagai hal dan menuntut penjelasan logis dari setiap hal yang ditanyakannya. Anak dengan kecerdasan matematis – logis juga biasanya memiliki nalar yang lebih tinggi dan mudah untuk mengembangkan pola sebab akibat.

Bagaimana menstimulasi kecerdasan ini? Stimulasi bisa dilakukan dengan cara :

• Bermain dengan bentuk-bentuk geometri, dapat dimulai sejak usia bayi dengan menggantung berbagai bentuk geometri warna-warni. Untuk anak yang lebih besar ajak anak membandingkan perbedaan berbagai bentuk geometri, kegunaan, mengelompokkan, dan mencari contoh benda di sekitar dengan bentuk geometri tertentu.

• memanfaatkan jari tangan, orang yang sedang berbaris atau apa saja dan mulailah berhitung.

• Bermain pola tertentu yang ada di sekitar anak. Gunakan manik – manik berwarna atau kancing berwarna untuk membuat pola sederhana yang dapat di tiru oleh anak. Misal, susun manik – manik warna biru-merah-kuning-hijau, lalu biarkan anak melanjutkan dengan pola yang sama.

• Mengadakan permainan jual beli. Ajak anak untuk bermain sebagai penjual dan Anda sebagai pembeli.

Permainannya disesuaikan ya dengan usia anak. Pastinya harus aman.

4. Kecerdasan visual - spasial (Spatial intelligence)

Kecerdasan visual – spasial yang dimaksud adalah kemampuan anak untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat serta mempunyai daya imaginasi secara tepat. Kecerdasan ini memungkinkan anak membayangkan bentuk – bentuk geometri atau tiga dimensi dengan lebih mudah. Bagian otak yang berperan pada kecerdasan ini adalah hemisphere di bagian kanan belakang.

Ciri-cirinya: suka bermain lego, balok kayu atau main rancang bangun lainnya. Anak dengan kecerdasan visual – spasial tinggi juga suka menggambar apa saja yang pernah dilihatnya, mudah mengikuti petunjuk dalam mencari dan mengenali suatu tempat dan mampu dengan tepat memvisualisasikan pemikiran atau gagasannya melalui gambar.

Permainan yang juga menjadi stimulator adalah :

• Mengajak anak melukis, menggambar atau mewarnai. Kegiatan ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, dan termasuk kegiatan favorit anak pada umumnya. Biarkan anak menggambar sesuai imajinasinya, namun bila ingin melihat contoh pun tidak masalah. Kegiatan ini merangsang kreativitas, mengembangkan imajinasi, ajang ekspresi dan melatih motorik halusnya.

• Memberikan kesempatan anak untuk mencorat-coret, biasanya dimulai sejak anak umur 18 bulan. Coretan merupakan tahap awal dari menggambar dan menulis yang menuntut koordinasi mata-tangan dan dapat digunakan untuk mengembangkan imajinasinya. Siapkan kertas atau dinding khusus agar anak tidak mencorat-coret di sembarang tempat.

• Membiarkan anak bereksplorasi saat menggambar. Gunakan kapur, plastisin, cat air atau krayon dengan berbagai alat bantu seperti sikat, tangan, kaki, spons bahkan sayuran untuk menggambar atau mencetak gambar. Kemudian ajak anak untuk berdiskusi tentang hasil karyanya termasuk tekstur, warna dan ukuran.

• Membuat prakarya, misalnya berbagai lipatan kertas yang akan melatih visual spatial anak. Rangkai karya lipatan kertas anak lalu gantung di dinding. Kegiatan ini juga akan membangun kepercayaan diri anak.


5. Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan ini adalah kemampuan anak menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan.

Kecerdasaan ini melibatkan kemampuan mengontrol gerakan, keseimbangan, ketangkasan dan keanggunan dalam bergerak. Bagian otak yang memproduksi kemampuan ini adalah cortex di kedua belahan otak (hemisphere).

Ciri-ciri dari anak dengan kecerdasan fisik tinggi antara lain: mampu melakukan suatu gerakan tubuh yang indah atau bagus, berlari, pandai menari, menghias rumah, membuat taman bunga atau terampil membuat kerajinan tangan dan cekatan dalam mengerjakan sesuatu.

Stimulasi kecerdasan ini bisa dilakukan dengan cara :

• memperdengarkan musik favorit anak, lalu menarilah bersamanya sambil bertepuk tangan, mengangkat atau menghentakkan kaki dan berputar.

• Permainan di lingkungan luar seperti memanjat, berayun, berlari, melompat, merangkak, berenang juga melatih anak mengembangkan kepercayaan terhadap kemampuan tubuhnya.

• Bermain drama. Kegiatan ini mirip bermain peran namun dalam lingkup yang lebih luas. Sebelum bermain drama biasanya ada latihan kelenturan otot. Selain mengandalkan stamina dan kelenturan tubuh drama juga melatih anak bersosialisasi. Jika anak tampak berbakat dan berminat dapat dimasukkan di sanggar cerita atau teater.

• Berolah raga, misalnya berjalan di atas papan titian, berlari, melompat, bermain bola, bermain voli, bermain basket, berenang, bermain bulu tangkis, senam irama, dan lain – lain.


6. Kecerdasan interpersonal (Interpersonal intelligence)

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan anak untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan , intensi, motivasi, watak, temperamen orang lain. Kemampuan yang menonjol dalam berelasi dan berkomunikasi dengan berbagai orang. Bagian otak yang berperan pada kecerdasan ini adalah lobus frontal (cortex bagian depan).

Ciri-ciri cerdas interpersonal atau cerdas sosial adalah: mudah bergaul dan bekerja sama dengan orang lain, mampu melihat permasalahan dari sisi orang lain, pandai mempengaruhi orang lain, suka memimpin, suka berdiskusi atau menimba pengalaman dari orang lain dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi pada sesama.

Kegiatan untuk membantu stimulasi kecerdasan ini adalah dengan cara :

• Berbicara tentang perasaan Anda atau orang lain, seperti “Nenek sedang sedih Nak. Jadi, jangan dulu mengajaknya bermain boneka ya”

• Membuat peraturan bersama dalam keluarga melalui diskusi, sehingga tiap anak merasa memiliki peraturan tersebut. Peraturan ini dapat ditulis dan dipajang di kamar anak atau di tempel di pintu kulkas.

• Memberi kesempatan tanggung jawab di rumah, misalnya mencuci peralatan makannya sendiri, membersihkan kamar sendiri dan lain – lain.

7. Kecerdasan intrapersonal (Intrapersonal intelligence)

Kemampuan berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasar pengalaman diri serta mampu berefleksi dan keseimbangan diri, kesadaran tinggi akan gagasan – gagasan.

Ciri kecerdasan ini adalah: mampu berpikir reflektif, tidak banyak bicara, suka menyendiri, tekun, sering merenung, dan mudah menyelesaikan perasaan negatif yang dialaminya. Untuk anak yang lebih besar, cirinya antara lain: suka mengisi buku harian, menyukai proyek sederhana yang dirancang sendiri, suka bermeditasi, mampu merancang hal-hal yang ingin dilakukan di masa depan dan konsisten dengan cita-citanya.

Biasanya untuk stimulasi kecerdasan ini, Anak akan butuh bantuan untuk memahami apa yang dia rasakan. Coba kaitkan tingkah lakunya yang tampak oleh Anda dengan kejadian yang mungkin menjadi pemicunya. Contoh, “Kamu menghentakkan kakimu karena kamu marah ya? Apa ini karena kakak mengambil mainanmu?”
Atau “kamu menangis karena sedih ya si manis menghilang? Tidak apa – apa nak. Mama juga pernah sedih karena kucing mama menghilang. Nanti sore kita coba cari si manis ya.” Jadi anak belajar bahwa berempati pada orang lain adalah merasakan dan menghargai emosi mereka.

8. Kecerdasan lingkungan/naturalis (Naturalist intlligence)

Kemampuan untuk mengerti flora dan fauna dengan baik, menikmati alam, mengenal tanaman dan binatang dengan baik. Ciri-cirinya: suka menikmati keindahan alam, mengoleksi benda-benda yang ditemukan di lingkungannya, mengenali nama berbagai macam tanaman dan binatang yang ada di lingkungannya, menyayangi binatang dan tanaman, menyukai tantangan alam, mempunyai rasa igin tahu yang besar terhadap berbagai gejala alam. Untuk anak yang lebih besar biasanya suka mendaki gunung, camping atau melakukan perjalanan ke daerah pelosok yang belum ia kenal.

Kecerdasan ini dapat di stimulasi dengan cara :

• Pada usia dini, Anda bisa mengajak anak berjalan – jalan di taman kota, kebun raya, pantai atau tempat lain yang memiliki aneka ragam makhluk hidup. Beritahu nama – nama tumbuhan dan binatang yang Anda dan anak temui. Di rumah, ajak anak untuk mengeksplorasi tumbuhan dan binatang yang di temui dengan melihat di ensiklopedia.

• Memperlihatkan pada anak bagaimana proses tumbuh kembang makhluk hidup bisa menjadi stimulasi yang sesuai untuk merangsang kecerdasan ini. Misalnya, ajak anak untuk menanam kacang hijau. Taruh di beberapa wadah sederhana. Potret dan catat perkembangan kacang hijau menjadi pohon tauge. Bisa juga dengan melihat ulat yang berubah menjadi kupu – kupu. Dalam prosesnya, anak akan melihat dan mengetahui apa yang di butuhkan tanaman untuk tumbuh atau bagaimana ulat berubah menjadi kupu – kupu.

Itulah 8 kecerdasan majemuk yang secara alamiah dimiliki oleh manusia.

Wallahu 'alam bi shawab

1 komentar:

Postingannya bagus. Alhamdulillah nambah ilmu. Aamiin ^^

REPLY

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates