Kamis, 09 November 2017


Nikah adalah suatu ketaatan. Tidak mungkin Allah membiarkan hamba-Nya sengsara ketika mereka ingin berbuat kebaikan semisal menikah. Salah satu keutamaan menikah adalah untuk menyempurnakan separuh agama dan kita tinggal menjaga diri dari separuhnya lagi.

Namun, alangkah lebih bahagia apabila para pemuda sudah mempunyai bekal sebelum mengarungi biduk rumah tangga nantinya, sebagaimana indahnya untaian nasehat-nasehat berikut ini :

Kalau aku lahir ke alam dunia pasti bukan keinginanku, tapi kehendak-Nya. Bila aku harus berbuat mengikuti jalan-Nya, itu juga bukan keinginanku, tapi karena kehendak-Nya.


Allah Yang Maha Mulia pasti mengatur seluruh makhluk-Nya
Sebagaimana yang dikehendaki-Nya di dalam kekuasaan-Nya
Ada keinginan yang disediakan tapi jangan abaikan kehendak-Nya.
Itu telah menjadi ketetapan-Nya.


Cinta Itu hanya bagi mereka yang telah dewasa dan matang

Matang dalam kehidupan
Dewasa dalam memandang kehidupan

Cinta bukanlah barang recehan yang harus di umbar,  di pamerkan. Cinta adalah Puncaknya daripada Agama
Belajar Menghargai Perbedaan,  belajar Menghormati Perbedaan keyakinan,  Mencintai Mahluk Tuhan yang ada tanpa melihat latar belakang Apapun ras, suku,  Agama,  strata sosial, jabatan dan apapun. Cinta hanya untuk Mereka yang sudah melebur dan bersatu bersama yang Maha Cinta

Dari pribadinya akan terpancar Pesona yang Mempesonakan,  Keluhuran Budi pekerti,  kedalaman Ilmu dalam melihat Persoalan,  tak Perduli lagi dan Menghilangkan Penilaian dari Mahluk

Karena baginya Cinta itu Persembahan hanya untuk yang Maha cinta

Cinta untuk mereka yang sudah Istiqomah dalam tirakat panjangnya, berjalan bersama kehendak dan takdirNya,  menerima apapun  yang di gariskan untuknya,  senantiasa berada pada puncak syukur dan sabar

Cinta Hanya bagi Mereka yang telah menjadi Manusia.

Pantaskah kita bicara cinta Jika kita belum bisa memanusiakan Manusia....?


"Jika kau berada di jalan Allah, berlarilah kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari, meski hanya berlari-lari kecil. Bila lelah, berjalanlah. Apabila semua itu tidak mampu dilakukan, tetaplah maju meski harus merangkak dan jangan pernah sekalipun berbalik arah”

—  Imam Syafi’i

 
Wasiat Imam Abu Hanifah An-Nu’man kepada para pemuda

Janganlah engkau (terburu-biru) menikah kecuali setelah engkau tahu bahwasanya engkau sudah mampu untuk bertanggung jawab memenuhi seluruh keperluan isterimu. Carilah ilmu terlebih dahulu, kemudian (setelah mempunyai ilmu) kumpulkanlah harta benda dari jalan yang halal lalu menikahlah.

Jika engkau mencari harta benda di tengah waktumu mencari ilmu, maka engkau akan lemah di dalam mendapatkan ilmu, karena harta benda selalu mengajakmu untuk terus berniaga dengan orang disekitarmu, dan engkau akan disibukkan dengan urusan dunia juga wanita sebelum engkau benar-benar mendapatkan ilmu.
(Jika itu yang terjadi) maka waktumu akan sia-sia, dan engkau akan mempunyai banyak anak, keluargamu akan menjadi semakin banyak juga.

Oleh  itu, maka engkau akan sangat berhajat untuk memenuhi keperluan mereka dan engkau lalu meninggalkan ilmu.

Sibukkanlah waktumu dalam mencari ilmu pada masa-masa mudamu, pada waktu hatimu masih senggang dari banyak pikiran, kemudian setelah itu (setelah ilmu berhasil diraih), sibukkanlah dirimu untuk mengumpulkan harta benda, karena sesungguhnya banyaknya anak dan keluarga akan mengganggu pikiran.

Dan ketika harta sudah kau raih, maka menikahlah.

(Kitab al-Asybah wa an-Nadzoir li Ibni Najm)




Sudah siapkah menjalani hidup sebagaimana kehendak-Nya?
Boleh saja berkeinginan jika diizinkan oleh-Nya
Jangan mengetahui hanya untuk menuruti nafsu dunia
Tapi ketahuilah ada kehendak-Nya.


Jalani hidup sebagaimana kehendak-Nya?
Boleh saja berkeinginan jika diizinkan oleh-Nya
Jangan mengetahui hanya untuk menuruti nafsu dunia
Tapi ketahuilah ada kehendak-Nya.
Wallahu ‘alam bi shawab

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates