Jumat, 10 November 2017


Ubay menjawab, "Ya, Aku telah mendengar Nabi
menyinggungnya. Beliau bersabda, 'Ketika Musa sedang bersama pembesar-pembesar Bani Israil, dia didatangi oleh seorang laki-laki. Dia berkata, 'Apakah kamu mengetahui seseorang yang lebih tahu darimu?’ Musa menjawab, ’Tidak.’ Maka Allah mewahyukan kepada
Musa, ’Ada, yaitu hamba Kami bernama Khidhir.’ MakaMusa bertanya bagaimana menemuinya. Allah memberinya satu tanda, yaitu seekor ikan. Dikatakankepada Musa, ’Jika kamu kehilangan ikan, maka kembalilah, karena kamu akan menemuinya.’ Musa pun menelusuri jejak ikan di laut. Pelayan Musa berkatakepadanya, 'Tahukah kami ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupamenceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang melupakanku untuk menceritakannya kecuali setan." (QS. Al-Kahfi: 63). "Musa menjawab, 'Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali mencari jejak mereka semula." (QS. Al-Kahfi: 64). Keduanya bertemu Khidhir dan apa yang terjadi pada keduanya telah diceritakan Allah dalam Kitab-Nya.
.
.
.

Suatu hari Nabi Musa alaihis salam berpidato di hadapan Bani Israil. Nabi Musa
menyampaikan nasihat yang melunakkan hati dan
membuat air mata bercucuran. Begitulah para Nabi manakala mereka memberi nasihat. Nasihat mereka melunakkan hati yang keras dan melecut jiwa yang malas. Hal itu karena hati dan jiwa mereka dipenuhidengan rasa takut dan cinta kepada Allah. Mereka diberi kemampuan untuk menjelaskan dan dikaruniai banyak ilmu.
Banyak orang ketika mendengar orasi para orator ulung terkagum-kagum, mereka dengan apa yang mereka dengar. Terlebih jika mereka adalah Nabi-Nabi Allah. Setelah Musa menyelesaikan khutbahnya, dia diikuti oleh
seorang laki-laki yang meninggalkan tempat
perkumpulan. Laki-laki ini bertanya kepada Musa,
"Apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih alim
darimu?" Musa menjawab, "Tidak."
Musa adalah salah seorang Rasul yang agung. Dia
termasuk dari lima Rasul Ulul Azmi. Musa menempati di
urutan ketiga di antara para Nabi dan Rasul. Ibrahim
berada di urutan kedua dan Muhammad di urutan
pertama. Musa adalah Kalimullah (Nabi yang berbincang dengan Allah). Allah memberinya Taurat yang berisi cahaya dan petunjuk. Allah mengajarkannya banyak ilmu. Akan tetapi, berapa pun tingginya ilmu seorang hamba, dia tetap harus bertawadhu kepada Tuhannya. Jika dia ditanya dengan pertanyaan seperti itu, semestinya dia menjawab, "Wallahu a'lam."

Seberapa pun ilmu yang dimiliki oleh seseorang tetaplah sedikit dibandingkan dengan ilmu Allah.Allah mencela Musa yang tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Dia mewahyukan kepadanya, "Ada, ada yang lebih alim darimu. Aku mempunyai seorang hambadi tempat bertemunya dua laut. Dia memiliki ilmu yang tidak kamu miliki." Manakala Musa menyimak hal itu, dia pun bertekad ingin menemui hamba shalih tersebut
untuk menimba ilmu darinya.

Musa memohon kepada Allah agar menunjukkan tempat keberadaannya. Allah memberitahu bahwa dia berada di tempat bertemunya dua laut. Allah memerintahkan Musa
supaya membawa serta ikan yang telah mati. Musa akan
menemukan hamba shalih itu di tempat di mana Allah
menghidupkan ikan itu.
Musa berjalan dengan seorang
pemuda temannya menuju tempat bertemunya dua laut. Dia meminta kepada si pemuda agar memberitahu jika ikan itu hidup. Keduanya sampai di sebuah batu di pantai. Musa berbaring di balik batu untuk beristirahat
dari letihnya perjalanan. Di sinilah ikan itu bergerak-
gerak di dalam keranjang. Dengan takdir  Allah ia hidup, melompat ke laut, membuat jalan yang terlihat jelas.

Maka airnya berbentuk seperti pusaran, dan Allah
menahan laju air dari ikan tersebut. Si pemuda melihat ikan yang hidup itu, tetapi dia tidak menyampaikannya kepada Musa karena dia sedang tidur.
Setelah terbangun, dia lupa menyampaikan perkara ikan
tersebut kepada Musa. Pemuda itu belum teringat
kecuali setelah keduanya pergi dari tempat itu. Pada
hari itu dan pada malam itu keduanya terus berjalan.

Pada hari berikutnya, ketika waktu makan siang telah
tiba, Musa meminta pemuda itu untuk menghidangkan
makan siang mereka berdua. Makanan mengingatkan
pemuda itu kepada ikan, maka dia pun menyampaikan
perkara ikan tersebut kepada Musa. Ikan itu telah lompat pada saat keduanya beristirahat di batu barulah
kemarin. Perjalanan keduanya cukup mudah. Keduanya melewati tempat yang ditentukan, hingga kelelahan. Musa dan temannya berjalan berbalik menyusuri jejaksemula yang telah mereka lalui, demi menuju ke batutempat mereka beristirahat. Laki-laki yang dicari oleh Musa berada di sana di tempat di mana ikan itu lepas. Sampailah keduanya di batu itu. Keduanya mendapati seorang hamba shalih sedang berbaring di atas tanahyang hijau tertutup oleh kain, ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya.
Musa langsung memberi salam, "Assalamu'alaikum."
Sepertinya daerah itu adalah daerah kafir. Oleh
karenanya, hamba shalih tersebut merasa sangat anehmendengar salam di daerah itu. Dia menjawab, "Dari mana salam di bumiku." Kemudian hamba shalih itu bertanya siapa Musa. Musa memperkenalkan diri
sekaligus menyampaikan maksud kedatangannya. Dia
datang untuk menyertainya dan belajar ilmu yang
berguna darinya. Hamba shalih itu berkata mengingkari perjalanan Musa kepada dirinya, "Apa kamu tidak merasa cukup denganapa yang ada dalam Taurat dan kamu diberi wahyu?" Kemudian hamba shalih itu menyampaikan bahwa ilmu mereka berdua berbeda, walaupun sumber keduanya adalah satu. Hanya saja, masing-masing mempunyai ilmu yang berbeda yang Allah khususkan untuknya. "Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui. Kamu juga
mempunyai ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang
tidak Allah ajarkan kepadaku."

Musa meminta agar diizinkan untuk menyertainya dan mengikutinya. Dia menjawab, "Kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku." Musa pun berjanji akan sabar dengan izin dan kehendak Allah. Hamba shalih itu
mensyaratkan atas Musa agar tidak bertanya tentang
sesuatu sampai dia sendiri yang menjelaskan dan
menerangkannya. Musa dan Khidhir berjalan di pantai. Keduanya hendak
menyeberang ke pantai yang lain, dan mendapatkan
perahu kecil yang akan menyeberangkan para
penumpang di antara kedua pantai. Orang-orang
mengenal hamba shalih itu, maka mereka menyeberangkannya sekaligus Musa ke pantai seberangsecara gratis. Musa dan Khidhir melihat seekor burung yang hinggap di pinggir perahu. Burung itu mematok air dari laut sekali,
maka hamba shalih berkata kepada Musa, "Demi Allah,
ilmumu dan ilmuku dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti yang dipatokkan burung itu dengan paruhnya dari air laut." Ketika keduanya berada di atas perahu, Musa dikejutkan oleh Khidhir yang mencopot sebuah papan kayu dari perahu itu dan menancapkan patok padanya. Musa lupa
akan janjinya, dengan cepat dia mengingkari.

Pengrusakan di bumi adalah kejahatan, yang lebih jahat
jika dilakukan kepada orang yang memiliki jasa
kepadanya, "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang
akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?
Sesungguhnya kamu telah berbuat suatu kesalahan
besar." (QS. Al-Kahfi: 71). Di sini hamba shalih itu
mengingatkan Musa akan janjinya, "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan
sabar bersama denganku." (QS. Al-Kahfi: 72). Pertanyaan Musa yang pertama ini dikarenakan dia lupa, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Rasulullah.
Musa dan Khidhir terus berjalan. Musa dikejutkan oleh Khidhir yang menangkap anak kecil yang sehat dan lincah. Khidhir menidurkannya dan menyembelihnya,
memenggal kepalanya. Di sini Musa tidak sanggup untuk bersabar terhadap apa yang dilihatnya. Dengan tangkas dia mengingkari, sementara dia menyadari janji yangdiputuskannya. "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang munkar." (QS. Al-Kahfi: 74)
Pengingkaran Musa dijawab oleh hamba shalih itu
dengan pengingkaran, "Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat bersabar
bersamaku?" (QS. Al-Kahfi: 75)
Di sini Musa berhadapan dengan kenyataan yang
sebenarnya, bahwa dia tidak mampu berjalan menyertai
laki-laki ini lebih lama lagi. Musa tidak kuasa melihat
perbuatan seperti ini dan diam. Hal ini kembali kepada dua perkara. Pertama, tabiat Musa. Musa dengan jiwa
kepemimpinan yang dimilikinya sudah terbiasa
menimbang segala sesuatu yang dilihatnya. Dia tidak
terbiasa diam jika menyaksikan sesuatu yang tidak diridhainya.
Dan kedua, dalam syariat Musa, pembunuhan seorang
anak adalah sesuatu kejahatan.

Bagaimana mungkin Musa tidak mengingkarinya, siapa pun pelakunya. Dalam hal ini Musa mengakui kepada hamba shalih tersebut. Musa memohon kesempatan yang ketiga dan yang terakhir. Jika sesudahnya Musa bertanya, maka dia berhak untuk meninggalkannya.
Keduanya lantas berjalan, hingga tibalah di sebuah desa yang penduduknya pelit. Musa dan Khidhir meminta kepada mereka hak tamu. Mereka berdua hanya mendapatkan penolakan dari mereka. Walaupun demikian, Khidhir memperbaiki tembok di desa itu yang miring dan hampir roboh. Ini perkara yang aneh. Mereka menolak menerima keduanya sebagai tamu, tapi hamba shalih ini memperbaiki tembok mereka dengan gratis.
Di sini Musa memilih berpisah. Hal ini ditunjukkan oleh pertanyaan Musa kepada hamba shalih tentang alasan dia memperbaiki tembok secara gratis, padahal tembok itu dimiliki oleh kaum yang menolak mereka. Seandainya Musa bersabar menyertai hamba shalih ini, niscaya kita bisa mengetahui banyak keajaiban dan keunikan yang terjadi padanya. Akan tetapi Musa memilih berpisah setelah hamba shalih ini menerangkan tafsir dari perbuatannya dan rahasia yang terkandung dari perilaku yang dilakukannya.

Wallahu alam bi shawab

Sumber: Maktabah Abu Salma al-Atsari

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates