Jumat, 03 November 2017




Sejak masa mudanya, Rasulullah amat mencintai anak-anak. Sewaktu pulang dari Perang Badar, beliau mengajak Usamah, putra Zaid bin Haritsah, naik unta bersama. Saat itu, Usamah masih berusia 10 tahun.


Rasulullah adalah kakek yang penyayang. Beliau sangat sering bermain dengan cucu cucunya. Beliau membiarkan Umamah, putri Zainab dan Abu Al Ash, menarik-narik jubah saat beliau sedang sholat. Bahkan, Rasulullah membiarkan Umamah menunggangi punggung ketika beliau juga sedang shalat.

Suatu hari, Rasulullah pernah berkumpul dengan para istrinya. Beliau menggendong Umamah sambil mengeluarkan seuntai kalung.

"Kalung ini akan kuberikan kepada orang yang paling aku cintai," kata Rasulullah sambil memandang istrinya satu per satu.

Para istri Rasulullah saling memandang dengan memendam rasa berdebar. Siapakah di antara mereka yang akan mendapatkan kalung itu? Ketika Rasulullah melihat candanya mengena, sambil tersenyum, beliau memberikan kalung itu kepada Umamah.

Pada saat lain, Rasulullah pernah dikencingi seorang bayi sampai baju beliau basah. Ibu sang anak merenggut anaknya dari gendongan Rasulullah dengan keras. Melihat hal itu, Rasulullah langsung berkata, "Air kencing ini bisa dibersihkan, tetapi hati seorang anak yang dipukul akan tetap terluka."

Setelah itu, beliau pun melaksanakan shalat tanpa berwudhu lagi. Beliau hanya mencipratkan air pada pakaian yang terkena kencing.

Ada seorang anak yang sering dikunjungi oleh Rasulullah. Suatu saat, anak itu tampak murung karena burung peliharaannya lepas. Rasulullah pun segera datang dan membuat anak itu tersenyum kembali. Rasulullah juga banyak menghabiskan waktu bermain dengan anak anak kaum Muslimin yang lahir di negeri hitam Habasyah. Beliau tersenyum melihat mereka mengucapkan kata kata dalam bahasa Habasyah yang terdengar lucu.

  Rasulullah sangat pandai bergaul dengan siapa saja. Beliau mempunyai banyak kenalan baik, mulai dari budak sampai ke para pembesar. Rasulullah sangat menghormati para sahabatnya. Bahkan, banyak di antara mereka yang beliau beri julukan "kesayangan". Sebaliknya, para sahabat pun amat menyayangi Rasulullah. Sebagian mereka memberi Rasulullah dengan julukan "kesayangan" juga. Abu Dzar memberi julukan "khalil" kepada Rasulullah. Khalil berarti 'teman' atau 'kekasih'.

Rasulullah tidak pernah menolak undangan. Sesibuk apa pun, Rasulullah selalu bisa membagi waktu dengan baik untuk memenuhi undangan. Hal hal seperti ini membuat beliau amat dihormati dan dihargai lawan ataupun kawan.

Rasulullah menjadi orang yang disayangi dengan tidak banyak mengumbar bicara. Sebaliknya, beliau malah lebih suka mendengar daripada berbicara. Rasulullah selalu berkata seperlunya. Kalau bicara,perkataannya mengalir lancar dari celah gigi giginya. Rasulullah selalu bicara ke pokok masalah, jelas, tanpa bertele-tele.

Jika sedang marah, wajah beliau berubah, tetapi beliau selalu menyembunyikan dari orang lain. Kalau disakiti, beliau membuang wajahnya ke samping. Kalau gembira, Rasulullah menundukkan kepala. Canda beliau selalu sopan dan tidak pernah tertawa terbahak-bahak. Tertawa beliau hanya senyum.

Selain amat menyayangi sesama manusia, beliau adalah penyayang binatang. Tahun 630 M, beliau pernah berjalan memimpin 10.000 tentara Muslim. Saat itu, Rasulullah melihat seekor anjing bersama anak-anaknya menghalangi jalan. Beliau memerintahkan agar pasukan tidak mengganggu sang induk anjing dan anak anaknya. Rasulullah bahkan memerintahkan seorang prajurit menjaga anjing itu sampai semua pasukan lewat.
Kisah Kasih Khalil

Wallahu 'alam bi shawab


1 komentar:

woahh khalil artinya itu yaa..

REPLY

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates