Sabtu, 18 November 2017





“Selamat pagi... Saya udah nulis, loh... Kamu udah juga belum?.
Klik: http://www.bangsyaiha.com/2017/09/member-one-day-one-post-harus-ngeblog.html?m=0” Tegur admin bernama BangSyaiha selepas shubuh.


Senin pagi ketika jam menunjukkan pukul 05:22 WIB  pesan ini diterima, waktu disaat kebanyakan para manusia sedang riweuh dengan persiapannya menyongsong beban dunia seharian. Ternyata, Abang admin yang satu ini masih rela menyempatkan diri untuk menyuntikkan semangat kepada para adik barunya di grup itu. Anggap aja semua peserta yang baru bergabung disana masih adik-adik, hehe.
Lalu bagaimana denganku?
Aku yang baru sempat membuka pesan ini selepas dhuha pun makin terkagum-kagum, setelah sebelumnya kekagumanku akan beratus peserta mancadaerah belum rampung, kali ini dibuat terkagum lagi akan keramahan para pengasuh. Terucaplah syukur kemudian.
Bejibun pesan pun membuntuti teguran itu. Sampai tibalah peraturan perdana grup ini dirilis. Diawali dengan ucapan selamat bergabung disertai harapan semoga aman, nyaman, dan menambah keberkahan dalam menulis dari admin, lalu ditunjukkanlah teknik pelaksaan acara sebelum resmi menjadi murid di kelas ini, dimulailah masa orientasi sejak itu. Jadi teringat bagaimana susahnya masa-masa orientasi jaman old.
Kututup lagi akses grup itu untuk melanjutkan aktivitas nyata di dunia maya yang lain, sebelum akhirnya beraktivitas maya di dunia nyata. Apaan sih.
Sebakda dhuhur disaat istirahat siang, iseng kutengok chat teratas di dinding whatsapp. Terbukalah sebuah puisi dari seorang pelatih panahan, saat kubaca ternyata pas dengan keadaan siang itu, ah mungkin puisi ini baru saja ditulis.
Oleh : Mursyid Syaiful Haq

Debu jalanan sungguh keras
Engkau adalah penghalang aku melangkah
Saat terik matahari menerpa
Dan angin debu mengacaukan pandangan

Debu jalanan sungguh keras
Saat aku berusaha melangkah menuju kenikmatan
Atas cinta dan kasih sayang dari Tuhan ..
Melalui sujud sembah ku lantunkan


Debu jalanan sungguh keras
Melukai kaki mungilku menggapai majlis ilmu
Lelah letihku terobati oleh air wudhu
Tanda perjuanganku untuk menggapai surga-Mu


Sebelum pertanyaan kulontarkan, ternyata sebuah jawaban telah terkirim oleh empunya.
 “Puisi tadi berawal dari pengalaman spiritual saya mengaji ke salah satu tempat di Bandung. Saya waktu itu masih kecil yang harus berjalan kaki sekitar 2 km dari rumah.
Bikinnya mah barusan, tapi puisi itu menceritakan pengalaman saya lima belas tahun lalu ..
Biasanya orang berpuisi menguasai gaya bahasa tertentu, tidak semua hafal atau mengerti.
Ini karena pengaruh dari karakter suasana hati penulis itu sendiri. Kalau orangnya suka baper seperti saya biasanya puisinya tuh yang bikin orang klepek2 gitu ..
Kalau yang suka politik biasanya dengan gaya bahasa yang kritis seperti lagunya ‘Bento (Benteng Soeharto)’ dan ‘Bongkar’ buatan Iwan Fals” terang Mursyid.

Pertanyaan pun bermunculan dari peserta yang mungkin penasaran sepertiku, atau mungkin hanya iseng mengulang pengetahuannya, ah itu urusan mereka yang terpenting aku menimba ilmu mereka.

Tanya:  “(Stared) berarti idenya itu terlintas begitu aja ya? dan eksekusi hingga jadi sebuah puisi itu nyusun kalimatnya macam mana? mikir perkalimatnya itu gimana aku kadang suka bingung hahaha..”

Jawab: “Iya begitulah puisi.Kalau masalah mikir gimana penulisan kata2nya itu sesuai kita aja. Biasanya anak2 juga kalau nulis puisi kan ga ribet harus mikirin kata2, yang sesuai dengan dunia mereka.
Contoh :
Aku sayang guruku
Dia mengajari aku
Matematika
Bahasa Indonesia
Dan mata pelajaran lain

Karena guruku
Akhirnya aku menjadi pintar
Berhitung
Membaca dan menulis

Aku sayang guruku
Terima kasih guruku
Yang penting kita tentukan temanya tentang apa dan jelas tujuannya ke mana. Kalau mau belajar detailnya ada guru sastra yang mungkin lebih paham tentang ini, karena puisi itu termasuk sya'ir yang berkaitan dengan bahasa, dengan budaya juga ..
Puisi yang saya tulis adalah sya'ir kontemporer yang sifatnya bebas, kalau sya'ir yang klasik lebih ke budaya adat dan suku ..”

Tanya: “Kan ada ya yang suka bikin puisi itu berima, ada pula yang bebas. lebih enak bagi pemula yang kayak gimana? soalnya kan kalau yang berima kayaknya lebih susah ya mencocokkan katanya πŸ˜…πŸ˜….”

Jawab : “Kalau yang berima mah mirip pantun kang hehe . Rima yang standar bunyinya a,b,a,b. Gitu kang hehe.”
Tanya : “Gurindam ya kalau nggak salah yang masuk ke budaya.. mantra, duhh  ketauan sering bolos pas pelajaran.”
Jawab : “Iya kang budaya adat Sunda. Tulisannya bersifat pesan moral biasanya. Ngena banget sama pesan2 spiritual, mulai dari adat Hindu sampai ajaran Muslim juga ada.
Kalau belajar sastra Indonesia pangkal bahasanya Melayu, dan bercampur bahasa lain yang dari Sunda, Jawa, Inggris dan Arab, juga bahasa lainnya. Kalau dibuat menjadi sya'ir kata2 dari bahasa itu harus hafal di luar kepala πŸ˜‚πŸ˜…
Tanya : “Macam serat chentini ya kalau yang bahasa jawa, kalo sunda apa ya namanya lupa πŸ˜‚πŸ˜….”
Jawab : “Kalau di Sunda juga saya kurang tahu hahaha πŸ˜‚.
Saya dulu waktu SMP pernah belajar mengiringi lagu2 melalui musik Gamelan, saya cuma ingat beberapa judul lagu saja, ada Kulu-Kulu, Catrik, Maskumambang dan iringan lagu tari Merak. Guru saya waktu itu, Bapak Enu Wihardja, S.Pd. adalah lulusan S1 Sastra Sunda.
Kata beliau, mata kuliah Sastra Sunda sudah jarang diminati.
Beliau pernah bercerita tentang cinta lokasi dengan istrinya, yang dulunya seorang penari adat Sunda hehe ..
.
.
.
MasyaAllah, grup baru dibuat dalam dua saja sudah ramai dengan tebaran ilmu, bagaimana nanti dikemudian hari?. Aku yakin akan lebih ramai daripada ini, sebab dulu disana juga begini.
 
Asyik menyimak keramaian akibat percakapan mereka, tak sadar jam istirahat telah usai. Kututup lagi akses Whatsapp untuk kemudian kubuka di sela-sela kenyataan.
Bersambung....


Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates