Selasa, 24 Oktober 2017


Lelaki itu gelisah. Ia khawatir, perubahan yang begitu cepat dalam dirinya, membuatnya termasuk orang munafik. Bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq radiyallahu ‘anhu yang sedang merasakan hal yang sama, ia menemui Rasulullah shallalaahu alaihi wasallam.


“Ya Rasulullah, bila berada bersamamu kami selalu merasa dekat dengan Allah dan nuansa akhirat, tapi begitu kami berpaling darimu dan bertemu dengan anak istri kami, dunia seolah menarik kami dan sedikit demi sedikit kami jauh dari akhirat. Apakah itu pertanda kami termasuk golongan orang munafik?.” Demikian Handzalah, laki-laki itu, bertutur cemas.
Rasulullah tersenyum. Ia senang dengan ketulusan Handzalah yang mampu mendeteksi kondisi jiwanya. Dengan kemampuan itu, Rasulullah yakin Handzalah mampu menjaga jiwanya sehingga tak tergelincir dalam kemunafikan.

Imam Al-Ghazali menjelaskan, berdasarkan sifatnya, jiwa manusia memiliki tiga jenis:

        Nafsul muthmainnah, jiwa yang tunduk kepada Rabb-nya dan segala perintah-Nya. Ia tenang dalam beribadah kepada-Nya, mencintai-Nya, meyakini janji-janji-Nya dan menerima segala ketentuan-Nya. Orang dengan jiwa muthmainnah menemukan ketenangan hidup dan aura ketenangan itu dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
      Nafsul lawwamah, adalah jiwa yang menyesali segala kebaikan yang luput ia lakukan. Ia memiliki potensi berbuat baik dan menyadarinya tapi sering luput melakukannya, dan tinggallah ia menyesali kelalaiannya.     
 Nafsul ammarah, jiwa yang selalu mengajak pada perbuatan buruk mengikuti hawa nafsu. Kepada kaum dengan jiwa seperti inilah Rasulullah diutus.
Tak ada manusia yang berhasil memiliki nafsul muthmainnah tanpa usaha dan kerja keras. Bahkan ketika jiwanya sudah berada dalam kondisi muthmainnah, ia harus terus dijaga, karena begitu mudah jiwa berubah.
Para ulama menjelaskan, di antara cara menjaga jiwa agar stabil dalam muthmainnah adalah menjalankan seluruh ibadah wajib, menjalankan sebanyak-banyaknya ibadah nafilah, bergaul dengan orang-orang saleh, banyak berzikir, banyak bertobat.
Tugas manusia bukan menghilangkan sifat fujur dalam dirinya—karena tidak mungkin, melainkan mengelolanya sehingga ia muncul seminimal mungkin.
Begitu pula sifat takwa, dikelola hingga maksimal.
Memaksimalkan potensi takwa adalah jalan menuju tercapainya nafsul muthmainnah. Setiap kita harus berusaha untuk meraihnya. Bukan hanya demi ketenangan hidup di dunia, tapi lebih jauh dari itu, karena Allah menyeru nama mereka begitu indah untuk kembali kepada-Nya, dengan penuh ridha dan jamuan surga yang menanti. Wallahu a’lam bisshawwab.

“Wahai jiwa-jiwa yang muthmainnah, kembalilah kepada Rabb kalian dengan hati yang ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”(QS Al-Fajr [89]: 26)

Wallahu ‘alam bi shawab

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates