Jumat, 06 Oktober 2017

Di ruangan sempit berdinding merahmuda inilah  Aku mengenang masa kanak-kanak dulu, karena pejumpaan tadi pagi dengan seorang teman lama menyebabkan terlintas kenangan  indah itu dalam lamunan secara tiba-tiba. Ibarat pepatah sekali dayung dua  tiga pulau terlampaui, daripada hanya menjadi kenangan dalam hati, lebih baik kucoba menuliskan kenangan ini, selain ingin menghibur diri kegiatan ini juga kugunakan untuk melatih keterampilan menulis. Ditemani sebungkus roti selai coklat kesukaanku, mulailah kurangkai kata demi kata agar menjadi barisan kalimat cerita yang diharapkan dapat menyenangkan hati siapa saja yang membacanya. Aku mulai tertarik untuk selalu menuliskan pengalaman hidup yang pernah kualami sejak beberapa bulan yang lalu, dan untuk sementara ini, beginilah caraku mengalihkan rasa gundah yang mengusik hari-hari mudaku.
.
.
.
Adzan shubuh telah dikumandangkan  sekitar setengah jam yang lalu, namun tidak membuatku lekas beranjak dari tempat tidur, rasa kantuk yang masih melekat kuat disertai hawa dingin yang terasa menusuk tulang malah mengajakku untuk menarik selimut kembali. “Ah, nanti saja, pasti bunda membangunkanku tepat waktu, toh adzan baru saja terdengar, masih ada banyak waktu” gumamku sambil memejamkan mata lagi.
Nduk, Ayo bangun.... sudah siang ini, keburu habis waktu salat subuhnya, lagian apa kamu tidak berangkat sekolah?” suara bunda membangunkanku. “Iya bunda sebentar” jawabku lirih sambil merengek manja. Dengan rasa malas yang masih menguasai, kuturunkan tubuh ini dari tempat tidur menuju kamar mandi. “Lekas mandi, air hangatnya sudah bunda siapkan” terang ibu selanjutnya.
Setelah mandi, Aku bergegas melakukan gerakan yang dinamakan salat, meskipun saat itu sinar matahari sudah terlihat begitu terang. Dikemudian hari Aku baru menyadari itulah cara orangtuaku mengajarkan salat kepada buah hati yang mereka cinta, tanpa paksaan harus bangun dinihari.
Selesai sarapan, Aku berpamitan untuk berangkat sekolah. Hari itu  ayah yang mengantarkanku sekolah, karena ibu ingin berangkat ke pasar di pagi hari, untuk mencari sayur yang masih segar katanya.
Sesampainya di sekolah, Aku langsung berlari memasuki ruang kelas bercat hijau  yang terletak di deretan paling pojok bangunan sekolah, seingatku di depan ruang itu terpampang papan cokelat bercoretkan dua garis tebal bewarna putih. Buru- buru kutaruh tas di bangku paling depan sendiri kemudian lari keluar kelas untuk menemui teman- teman yang sedang seru melakukan permainan petak umpet di halaman luas depan  rumah tetangga sekolah.
Tiba-tiba, terasa  sebuah benda menimpuk bagian belakang kepalaku. Sontak aku menangis dengan suara keras karena kesakitan. Teman-teman yang mendengar tangisanku datang menghampiri untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. “Waduh celaka, kepalanya berdarah itu!” teriak salah satu anak dari tengah kerumunan. Aku yang sempat mendengar perkataan itu, mencoba memegang bagian yang terasa sakit dan mengecek apakah benar kepalaku berdarah, dan ternyata kepalaku mengeluarkan darah meskipun hanya sedikit. Sontak suara tangisanku bertambah keras, entah apa yang kupikirkan saat itu, yang pasti Aku merasa takut terjadi apa-apa. “Tolong ada yang memanggil bu guru yah” seorang kakak kelas mencoba membantuku. Ia mencoba menuntunku menuju ruang kantor guru, “tenang yah, tidak apa-apa kok cuma luka sedikit saja” terangnya.
Setelah diobati oleh bu guru, Aku diantarkan pulang agar beristirahat, sepertinya bu guru itu tahu kalau aku terlalu cemas. “ Hari ini mbak istirahat di rumah dulu, besok tetap masuk kalau sudah tidak sakit yah” pesan singkat bu guru sambil mengucapkan salam perpisahan.
Setelah bu guru pulang, ayah langsung menanyakan apa yang terjadi sebenarnya sampai-sampai  Aku diantarkan pulang. “Apa yang kamu lakukan toh nduk, kok sampai luka seperti ini” tanya ayah penasaran. Akupun mencoba menceritakan kronologi kejadian hari itu, sambil sesekali menahan isak tangis.
“ Ya sudah, besok Ayah bantu mencari siapa yang telah melempari kepalamu itu, sudah sana istirahat dulu” kata ayah menenangkan.
Keesokan harinya, Aku diantar ke sekolah lagi oleh ayah, kali ini Aku diantar sampai di halaman sekolah, ayahku mencoba menanyakan kepada teman-teman siapa sebenarnya anak yang telah melempar  batu sampai terkena kepalaku.
Singkat cerita, ternyata teman laki-laki sekelasku yang telah melempar batu itu, dia mengaku tidak sengaja melempar batu itu sampai mengenai kepalaku. “ Maafkan Aku tidak sengaja, kemarin Aku sedang bermain pecah piring saat kamu tiba-tiba lari melintas disampingku” ucap temanku itu sambil menunduk ketakutan. “iya, Aku maafkan” jawabku sambil menjabat tangannya. “Lain kali lebih berhati-hati lagi ya saat bermain seperti itu” nasehat Ayahku kepada teman itu.
Sejak kejadian tersebut, pertemananku dengannya semakin akrab daripada dengan teman laki-laki yang lain, bahkan pernah sekali teman itu rela kehujanan karena meminjamkan payung miliknya kepadaku. Tapi, keakraban ini tidak berlangsung lama karena  dia  pindah sekolah beberapa bulan kemudian.
Semoga kebaikanmu tetap terjaga wahai seseorang yang pernah menjadi teman lama.


Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates