Minggu, 08 Oktober 2017

Meneladani kehidupan para manusia pilihan adalah suatu kegiatan yang sangat dianjurkan karena memang merekalah manusia pilihan yang diutus untuk memberikan contoh kehidupan kepada para  manusia sesudahnya.
Apalagi jika yang kita teladani itu kehidupan sang pemberi contoh terbaik (uswatun khasanah), dapat dipastikan tidak akan ada ruginya malah pahala yang bakal diterima. Masyaallah
Kali ini Saya ingin berbagi sedikit tentang keteladanan dari  seorang putri sulung Rasulullah Shallaallahu alaihi wasallam, dia adalah Zainab Radiyallahu anha.
Zainab adalah putri tertua Rasulullah. Ia menikah dengan sepupunya, Abu Al-Ash bin Rabi. Ibu Abu Al-Ash bernama Halah. Ia adalah kakak perempuan Bunda Khadijah. Pernikahan itu berlangsung jauh sebelum Muhammad di angkat  menjadi seorang Rasulullah. Sahabatku,kisah cinta Zainab dan Abu Al-Ash masyhur karena gelombang kesulitan yang kemudian mereka hadapi.Abu Al-Ash adalah orang yang jujur. Bisnisnya sangat maju dan ia berpeluang menjadi seorang yang sangat sukses dalam perdagangan. Namun,ketika Rasulullah mulai memperkenalkan Islam, Abu Al-Ash memilih tetap menyembah berhala. Sementara itu, Zainab bersegera memeluk agama baru itu. Ketika Islam makin menyebar, perlawanan kaum Quraisy semakin kuat. Ummu Jamil, istri Abu Lahab menyerukan agar Abu Al-Ash menceraikan istrinya. Namun,Abu Al-Ash menolak.Dalam Perang Badar, Abu Al-Ash menjadi prajurit Quraisy menghadapi pasukan Muslim. Abu Al-Ash tertangkap dan dibawa sebagai tawanan. Zainab yang masih tinggal di Mekah mengirimkan kalung ibunya untuk menebus Abu Al-Ash. Rasulullah amat terharu melihat kalung almarhumah Khadijah."Kalau kalian berpendapat tawanan ini dibebaskan tanpa uang tebusan, bebaskanlah dia,"kata Rasulullah  kepada para sahabat.Para sahabat terdiam. Uang tebusan biasanya  berjumlah sangat besar. Jika Abu Al-Ash di bebaskan tanpa uang tebusan,itu berarti mengurangi jatah uang untuk Rasulullah. Padahal,mereka telah mempertetuhkan nyawa dalam perang. Apalagi saat itu banyak sahabat yang hidup melarat karena kekayaan hidup  mereka diambil kaum Quraisy ketika mereka berhijrah ke Madinah. Namun,para sahabat mengerti bahwa uang bukanlah tujuan mereka berperang. Terlebih,mereka tidak ingin melihat Rasulullah berduka memikirkan perasaan putrinya. Para sahabat pun segera membebaskan Abu Al Ash.Allah kemudian melarang pernikahan antara wanita  Muslim dengan seorang kafir. Mengetahui hal itu, Zainab pun meninggalkan Abu Al Ash dan pergi ke Madinah untuk bergabung dengan ayahnya. Tentu, Zainab dan Abu Al Ash amat menderita karena harus berpisah. Namun, bagi Zainab, firman Allah berada di atas derita pribadi. Abu Al Ash pun melepas Zainab justru karena ia amat mencintai istrinya itu.Hingga suatu ketika, kafilah dagang Abu Al Ash dicegat pasukan Muslim. Abu Al Ash memohon bantuan Zainab di Madinah. Saat itulah Abu Al Ash kemudian masuk Islam. Mereka dikaruniai seorang putra bernama Ali yang wafat ketika bayi dan seorang putri bernama Umamah.
Sumber: buku Muhammad Teladanku

Wallahu  'alam bi shawab

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates