Rabu, 18 Oktober 2017

Sekitar 40 tahun yang lalu, tokoh peradaban Ivan Illich mengingatkan bahwa pendidikan universal tidak mungkin dicapai dengan sistem persekolahan. Ivan Illich membuat solusi jejaring belajar, sebagai opsi agar setiap orang bisa belajar kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja. Tidak harus belajar dengan disekat oleh ruang sempit bernama kelas dalam suatu sekolah. Dalam jejaring belajar ini prakasa belajar secara mandiri (otodidak) sangat dihargai, layanan non formal selalu meningkat kapasitasnya.


Kita rupanya lupa, bahwa institusi yang disebut sekolah itu adalah gejala baru yang umurnya baru berumur 200 tahun, di Indonesia malah baru berumur 150 tahun sejak adanya penjajah belanda. Para penjajah ini dengan cerdik menggunakan sekolah justru untuk kepentingan penjajah. Kalau kita cermati, grand design sekolah saat ini tidak banyak berubah sejak Belanda mendirikan sekolah di Hindia Belanda untuk pertama kalinya hingga abad ini, yaitu menyiapkan pegawai. Bagi penjajah waktu itu, mereka membuat sekolah untuk menyiapkan pegawai pemerintahan penjajah di kantor kantor publik.  Padahal ribuan tahun yang lalu, aristoteles yang dikenal sebagai bapak pendidikan tidak pernah mengajar muridnya di sebuah kelas, tapi di alam. Di zaman sahabat, ketika islam menyebar juga diajarkan di masjid, di bawah pohon,di pinggir pantai dan tidak selalu harus disekat oleh ruang dan waktu.

Kurikulum juga menjadi sumber masalah. Baru baru ini Kemendikbud mewacanakan untuk mengurangi konten kurikulum yang dinilai banyak pakar pendidikan overload. Tetapi anehnya juga mereka memperpanjang jam sekolah dengan sistem full day school. Jika ini terjadi,  sindrom “too much schooling” akan semakin menjadi. Sehingga keluarga yang seharusnya sekolah pertama dan utama akan semakin tergusur. Kewajiban mendidik anak adalah kewajiban keluarga, bukan kewajiban sekolah ataupun kewajiban pemerintah. Jika jam sekolah diperpanjang dan makin sedikit waktu untuk keluarga, maka siswa didik akan semakin diasingkan dari keluarga serta lingkungan sosialnya. Dan setelah lulus, mereka akan tergagap gagap hidup di masyarakat.

Pengalaman pendiri bangsa ini menunjukan, sebelum sekolah ada, belajar tidak pernah mensyaratkan harus di sekolah dan guru yang bersitifikasi. Pada saat dunia sebelum sekolah didirikan, belajar adalah bagian menyatu dari kehidupan sehari hari dengan pekerjaan yang dilakukan warga saat itu. Belajar dan bekerja menjadi satu mata rantai yang beriringan. Bahkan belajar dimaksudkan untuk memperbaiki praktek bekerja. Bukan sekolah terus menerus bertahun tahun, lalu setelah lulus baru mencari kerja seperti sekarang ini sehingga melahirkan banyak lulusan yang tidak punya kompetensi khusus sehingga ribuan lulusan SMK ataupun perguruan tinggi yang menjadi pengangguran.

Betapa belajar tidak mensyaratkan sekolah dari proses belajar itu sendiri, yaitu mengikuti siklus belajar : baca – praktek – tulis – bicara. Banyak sekolah yang gagal membangun siklus belajar ini. Sekolah hanya menjadi tempat guru mengajar, bukan siswa untuk belajar. Budaya kita semakin terbelakang. Layanan umum perpustakaan di sekolah masih menyedihkan. Kesempatan praktek hampir tidak ada, pengalaman sehari hari anak tidak dihargai. Budaya menulis kita amat tertinggal. Budaya bicara juga mandeg. Yang berkembang bukan budaya dialog dan musyawarah untuk mencapai reason agreement, tapi memilih cara yang mudah yaitu voting untuk mengambil keputusan. Padahal voting ini adalah solusi jika mentok jika musyawarah mengalami jalan buntu. Bukan ujug ujug dan sedikit sedikit voting yang menjadi dewa demokrasi. Budaya demonstarsi juga marak, tapi hanya satu arah. Dan lebih buruk lagi, perselisihan diselesaikan dengan pentungan dan tawuran.



Wallahu 'alam bi shawab

#HEbATcommunity
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasis
fitrah

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates