Sabtu, 07 Oktober 2017



Home Education atau home based education atau pendidikan berbasis rumah adalah amanah dan kesejatian peran dari setiap orangtua yang tidak tergantikan oleh siapapun dan tidak bisa didelegasikan kepada siapapun.
Pendidikan berbasis rumah bukanlah memindahkan persekolahan ke rumah, bukan pula menjejalkan (outside in) berbagai hal kepada anak-anak kita  namun membangkitkan dan menumbuhkan (inside out) potensi fitrah-fitrah dalam diri kita dan anak-anak kita agar mencapai peran sejati peradabannya dengan semulia-mulianya akhlak.

Rumah-rumah kita adalah miniatur peradaban, bila potensi berbagai fitrah yang baik bisa ditumbuhsuburkan dan dimuliakan di dalam rumah kita maka secara kolektif menjadi baik dan mulialah peradaban.

Setiap anak kita setidaknya memiliki 4 potensi fitrah sejak dilahirkan:

  1. Potensi fitrah keimanan, setiap bayi yg lahir pernah bersaksi bahwa Allah sebagai Tuhannya. Maka setiap bayi yang lahir pada dasarnya mengenal dan merindukan sosok Robb.
  2. Potensi fitrah belajar, setiap bayi yang lahir adalah pembelajar tangguh sejati.
  3. Potensi fitrah bakat, setiap bayi yang lahir adalah unik, memiliki sifat bawaan yg kelak akan menjadi panggilan hidup dan peran spesifik nya di muka bumi.
  4. Potensi fitrah perkembangan, setiap bayi sampai aqilbaligh dan sesudahnya, memiliki tahap-tahap perkembangan yang harus diikuti. Tidak berlaku kaidah makin cepat makin baik.


Ke 4 potensi fitrah ini sebaiknya simultan, seimbang dan terpadu. Apabila salah satunya ada yang kurang akan memberikan hasil yang tidak paripurna. Jika pendidikannya benar dan tepat, maka resultansi dari ke 4 fitrah ini adalah insan kamil yang memiliki peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang-orang beriman yang paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirinya, begitu pula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak inovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobi semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yang inovatif, produktif dan berakhlak mulia.


Pendidikan fitrah ini berlangsung sepanjang hayat, maka mekanisme kembali ke fitrah secara simbolis ada pada bulan Ramadhan setiap tahun. Prosesnya selalu sama yaitu diulang, rahmah-maghfiroh-itqun minannaar. Idealnya, proses penuh cinta (rahmah) adalah proses untuk anak anak 0-7 tahun, proses banyak memberi kesempatan dan ampunan (maghfiroh) adalah proses untuk anak anak 7- 10 tahun, dan proses fokus pada cahaya kebaikan (terhindar pada api neraka) adalah proses untuk pre aqilbaligh usia 10- 14 tahun.  Maka jika usia misalnya 13 tahun masih malas sholat, maka fitrah imannya harus diulang kembali proses penumbuhannya dengan keteladanan dan atmosfir keshalihan, bukan kepada pengajaran sholatnya, sampai muncul kembali gairah dan kecintaan kepada Allah,  Rasulullah,  Islam dan seterusnya. Tentu dengan keteladanan dan atmosfir keshalihan yang lebih banyak, misalnya homestay atau menginapkan di rumah keluarga shalih atau lingkungan shalih.

Wallahu 'alam bi shawab

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates