Kamis, 19 Oktober 2017

Belajar di era digital seperti sekarang tidak mengenal batas. Apapun, siapapun, dimanapun, kapanpun, mengapa, dan bagaimanapun ilmunya insyaAllah semakin mudah diperoleh, tinggal bagaimana cara kita menyaring dan menerapkan pelajaran yang didapat sehingga bisa bermanfaat untuk keberlangsungan hidup kita di dunia.


Nah, kali ini saya juga ingin berbagi secuil ilmu dari hasil memanfaatkan fasilitas digital yang ada yaitu tentang bagaimana menjadi orangtua bijak di era digital. Pembicara waktu itu adalah Ibu Lita Edia, S. Psi, salah satu penulis buku tumbuh kembang anak.
.

.

.

Berinteraksi dengan teknologi digital dan semua aplikasi mobile yang berkembang,  kini bukanlah pilihan,  namun keniscayaan.  Memang ini zamannya. Anak-anak  bukan hanya belajar nilai dan norma dari orangtua dan lingkungan sosial yang nyata, tapi juga dari dunia maya. Mungkin sebagian dari kita merasa kurang beruntung,  harus mendidik anak di zaman ini.  Mungkin sebagian dari kita merasa cemas akan segala dampak negatif dari perkembangan teknologi yang ada.
Sebagian dari kita memiliki keyakinan keyakinan bahwa zaman digital hanya memberikan dampak negatif saja,  seperti mengganggu kemampuan akademik,  membuat anak sulit berkonsentrasi, membuang waktu sia sia.  Sementara kita orang dewasa,  sebagian sudah memperoleh kebermanfaatan yang luas dari teknologi ini. Riset tentang otak,  terlebih yang berkaitan dengan era digital,  sebenarnya masih minim jumlahnya.  Hingga keyakinan kita akan hal buruk akan teknologi ini banyak berdasarkan penelitian di awal, yang masih banyak koreksi keakuratan hasilnya dari ahli, atau berdasarkan asumsi asumsi saja.


Sebuah penelitian terhadap anak yang menggunakan peranti digital,  dengan yang tidak,  ternyata hasilnya sama.  Sama sama anaknya cerdas,  bijak dan kreatif.  Ternyata ada satu hal yang sama diantara mereka yaitu hangatnya relasi keluarga.  Hal ini menunjukkan bahwa tumbuh kembang anak tidak melulu karena faktor apakah anak menggunakan teknologi digital atau tidak. 


Sebenarnya perkembangan teknologi digital membawa manfaat besar bagi perkembangan manusia.  Di antaranya pada aspek sosial.  Dengan media sosial kita bisa memperluas jejaring sosial.  Berdasarkan riset,  semakin berkualitas jejaring sosial kita maka akan memperpanjang jangka hidup,  dan membuat diri lebih sehat.
Dengan teknologi digital,  hidup kita juga bisa lebih efisien.

 
Keyakinan keyakinan pada diri orangtua melahirkan pilihan pengasuhan.
Ada yang memberikan batasan tanpa bimbingan. Lebih ke memproteksi anak,  seperti memberikan filter,  melarang menggunakan,  memberikan batasan waktu (aturan satu arah)
Ada yang memberikan bimbingan aktif seperti mendampingi penggunaan,  menjelaskan resiko,  mendampingi saat ada kesalahan.
Ada juga yang lepas tangan.
Berdasarkan riset, anak yang lebih rentan mendapatkan resiko dampak negatif adalah anak yang mendapat pola asuh memberikan batasan tanpa bimbingan.

Ada tiga hal penting mengenai otak, yaitu:
Adanya mirror neuron,  dengan adanya mirror neuron,  ketika manusia melihat orang lain berperilaku.  Otaknya bekerja persis seperti jika ia melakukannya sendiri,  dan cenderung meniru perilaku tersebut.  Semakin dewasa,  orang akan bisa memilah mana yang perlu ditiru,  mana yang tidak.  Akan tetapi tidak demikian pada anak,  karena eksekutornya yaitu prefrontal cortex baru matang di usia 20 an.

Adanya otak sosial emosi,  pada dasarnya ada bagian otak yang mengelola proses berpikir terhadap stimulasi sosial emosi.  Berdasarkan riset,  ketika kita merasa sakit hati,  maka otak bekerja sama dengan saat kita mengalami sakit fisik. Bagian otak emosi ini yang berkembang lebih dulu dibandingkan bagian yang lain.  Karenanya yang tepat bagi pendidikan di awal kehidupan anak adalah stimulai emosinya.

Adanya prinsip neuroplastisitas.  Dulu kita berkeyakinan bahwa otak berkembang pesat di usia anak dan remaja,  lalu berhenti berkembang.  Dengan penemuan baru mengenai neuroplastisitas ini maka keyakinan bergeser bahwa otak bisa menyesuaikan diri dengan pengetahuan,  situasi dan kemampuan baru sampai usia berapapun.


Bolehkah anak terpapar layar?
 Panduan Pediatri Amerika sebelum anak 2 tahun tidak boleh terpapar layar.  Anak di atas 2 tahun,  maksimal 1 jam dalam satu hari.
Anak memang akan lebih berkembang jika kaya pengalaman sensory dan banyak beraktivitas seimbang dalam aspek motor.



Di zaman era digital kemungkinan anak tidak pernah menatap layar itu nyaris ngga mungkin.Jadi fokus kita adalah bagaimana menyeimbangkan aktivitas anak.  Harus menyediakan mainan dan aktivitas yang banyak dan mendampingi mereka beraktivitas.
Selamat membersamai buah hati


Wallahu 'alam bi shawab

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates