Kamis, 26 Oktober 2017



Menulis merupakan rihlah jiwa baginya disela-sela bergiat sebagai pengkhidmah kajian Majelis Jejak Nabi di beberapa kota, relawan sahabat Al-Aqsha, pengasuh Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu, serta anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).


Sosok muda dan enerjik asal Kota Gudeg ini tidaklah asing dalam kancah kepenulisan dalam negeri. Pria berbadan gagah  yang murah senyum ini adalah salah satu manusia yang patut dijadikan teladan di negeri ini karena cara dakwahnya yang santun.

Terlahir pada hari Rabu bulan Jumadil Akhir tahun 1404 Hijriyah, dai muda yang menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Gajah Mada ini merupakan sosok yang menebarluaskan dakwah keagamaannya di bidang tulisan.

Karya pertamanya yang beredar sekitar tahun 2004, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, merupakan salah satu buku yang hingga kini masih terus dicetak ulang. Sedangkan karya terakhirnya yang ditulis sendiri-Lapis-Lapis Keberkahan-langsung cetak ulang dalam hitungan hari.
Saat kecil beliau sudah mempunyai cita-cita mulia yaitu menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Saat berada di bangku sekolah menengah atas beliau sudah tersadar akan peran yang harus beliau ambil secara spesifik kalau ingin betul-betul berguna. Dan ketika beliau amati —selain kesibukan berorganisasi yang membuat beliau jarang menatap sinar matahari dari rumah—salah satu yang luas jangkauan manfaatnya adalah menulis.

Dalam banyak kajiannya, ustadz yang bernama asli Nursalim ini banyak menghadirkan tulisan-tulisan yang segar, inspiratif, dan menggerakkan pembacanya terkait tema pernikahan, amal, dan sejarah Islam. Selain santun dan kronologis hingga mudah dinikmati, pilihan diksi dai yang sudah berkeliling nusantara dan luar negeri ini terbilang langka sehingga menjadi daya gugah bagi pembaca maupun penyimak kajiannya.

Kenangan saat kelas lima sekolah dasar adalah salah satu alasan yang membuatnya yakin untuk terus menulis. “Jika Allah berkenan menjadikan tiap huruf yang mengalir dari jemari beliau sebagai kebaikan, maka kebaikan itu pertama-tama akan menjadi hak Bapak dan Ibu. Saya harus menyebut beliau berdua jika kita berbincang tentang menulis.” Terangnya. Ketika itu, sang ibunda membawanya ke sebuah toko buku di awal tahun ajaran. Maksudnya tentu untuk berbelanja buku pelajaran dan alat tulis sebagaimana lazimnya anak lain. Karena sang ibunda ada kepentingan lain, beliau ditinggal sendiri di toko buku dengan uang yang pas untuk membeli semua keperluan tahun ajaran baru. Sekembalinya sang ibunda hanya bisa geleng-geleng kepala, karena yang beliau beli adalah buku-buku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan anak kelas lima. Beliau  justru belanja buku sejarah, biografi tokoh, filsafat, dan psikologi. Seingat beliau, dari lisan Ibunda hanya keluar kata, “Masyaallah!” Dan saat sampai di rumah, sang Ayahanda  juga hanya tertawa-tawa.
Dari perjalanan menulis selama ini, menurutnya tidak ada kendala berarti kecuali apa yang ada di dalam jiwa kita. Kendala menulis letaknya bukan di fasilitas, melainkan di dalam jiwa kita. Karena itu, semua hal harus disyukuri. Alhamdulillah, menulis itu rasanya berkah. Dengan tulisan beliau coba merekam jejak-jejak pemahaman ; mengikat ilmu, lalu melihatnya kembali untuk—sesekali—menertawakannya. Beliau merasa begitu kaya karena banyak saudara yang kemudian menunjukkan kepedulian dengan saran, masukan, kritik, bahkan cerca, dan kecaman. Semuanya memperkaya jiwa; mereka menunjukkan kelebihan maupun kekurangan diri yang takkan beliau sadari tanpa respon mereka.
Beliau adalah Ustadz Salim A. Fillah.

9 komentar

Enak ih dibacanya tulisanmu. Suka ... terima kasih ya ...

REPLY

Inilah gaya tulisan Zila yang saya suka

REPLY

Masyaa Allah..salah satu favorit saya :)

REPLY

Masyaa Allah..salah satu favorit saya :)

REPLY

Penulis favorite saya juga 😊

REPLY

Penulis favorite saya juga 😊

REPLY

Alhamdulillaah, maturnuwun sedayanipun

REPLY

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates