Kamis, 05 Oktober 2017

Bismillaah
Masih seputar ilmu parenting, kali ini Saya akan berbagi mengenai lanjutan bedah buku FBE (Fitrah Based Education)  tentang siklus peradaban.           
.
.
.            


Dalam hidup, setiap orang mempunyai misi dan perannya sendiri. Setiap orang menjalankan tugasnya masing masing dengan kesungguhan. Peran setiap orang tidak bisa digantikan dan tidak bisa diulang. Jadi setiap peran itu unik sebagai kesempatan khususnya untuk dilaksanakan. (Victor E Frank)

Malik Benabi, seorang pemikir islam dari Aljazair pernah membuat tesis tentang penjelasan penjajahan dunia ketiga. Beliau berbeda dengan para sejarawan yang menyalahkan penjajah. Justru beliau menerangkan kolonialisme dari dari sudut kondisi mental kaum yang terjajah. Tesisnya berjudul “Qobiliyat Al-Istmar” menjelaskan bahwa rakyat dunia ketiga binasa oleh kolonialisme bukan karena canggihnya mesin penjajahan, tetapi ada pada kondisi mental yang menjadikan syarat cukup terjadinya penjajahan itu. Bisa kita bayangkan kondisi mental nenek moyang kita yang selama 350 tahun lebih dijajah Belanda sehingga baru mengalahkan para penjajah hingga kita akhirnya merdeka di tahun 1945.

Tesis Malik Benabi di atas membenarkan sebuah hadits “Kaifa takuunu yuwala ilaikum”. Seperti apa kondisi mentalitas masyarakat kalian, maka begitulah pemimpin kalian. Pemimpin dalam sebuah peradaban adalah hadiah kolektif bagi karakter yang dominan yang ada pada bangsa tersebut.

Peradaban manusia sesungguhnya mengalami siklus. Kebangkitan dan kejatuhan sebuah bangsa dipergilirkan oleh Allah.  Untuk memulai proses peradaban, ada 3 faktor yaitu manusia, tempat dan waktu. Dan untuk menggerakan ketiga faktor itu dibutuhkan katalisator yaitu agama. Peran utama negara dalam proses peradaban itu bisa dianalisis pada perannya dalam merubah manusia menjadi pribadi yang bisa berperan dalam masyarakat, dalam merubah pola interaksi dengan tempat ia tinggal , dan merubah pandangan manusia terhadap waktu. Maka dalam peradaban islam zaman Rasulullah hidup dahulu ketika nilai nilai peradaban begitu tinggi dan mulia, tak heran bisa kita temui seorang wanita yang meminta dihukum rajam karena ia merasa berdosa dan bersalah serta berani mengakui bahwa ia berzina. Namun Rasulullah ingin sebelum ia dihukum mati, wanita ini melahirkan dan menyusui bayinya dulu sebelum akhirnya wanita ini dirajam. Inilah peradaban yang seharusnya kita idamkan. Dimana nilai nilai kemanusiaan dijunjung tinggi dan keadilan tegak seadil adilnya. Sehingga norma dan etika masyarakat dijunjung tinggi dan peradaban itu menjadi mulia.

Namun jika nilai rasionalitas tidak sekuat nilai spiritual dalam masyarakat, maka satu persatu naluri masa kejayaan akan lepas perlahan dan mundur bahkan hancur. Jika naluri sudah mengendalikan diri manusia dan mengindahkan agama, jaringan sosial mulai kendur, maka peradaban sudah mulai meluncur pada keruntuhannya.  Karena dengan kerusakan jaringan sosial ini, dinamika sosial juga akan berhenti, pencapaian menjadi berhenti. Sehingga muncul ide ide beku, penyembahan atas pribadi, muncul materialisme yang mengukur sesuatu secara bendawi, dan menumpuk kekayaan sebagai parameter kehidupan.

Saat ini, di siklus peradaban manakah kita berada?

Di siklus kebangkitan peradaban atau justru di siklus runtuhnya sebuah peradaban?

Wallahu 'alam bi showab


#fitrah based education
#pendidikan berbasis fitrah
#HEbAT community

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates