Rabu, 04 Oktober 2017



PENDIDIKAN VS KEBUDAYAAN

Pendidikan dan kebudayaan sering dijadikan satu paket pemahaman yang berkesinambungan. Dalam kaitan dengan kebudayaan, pendidikan dinilai mampu membentuk manusia. Pendidikan secara personal dianggap membentuk karakter dan kemudian secara komunal, karakter yang dominan tersebut membentuk kebudayaan. Lalu dimanakah letak peran peradaban?

Dalam bahasa Indonesia, kata peradaban berkonotasi dengan pengertian adab, kesopanan, kesantunan serta kehalusan. Sedangkan budaya diartikan sebagai seluruh hasil cipta, rasa, dan karsa manusia.

Dalam bahasa arab, perbedaan antara kebudayaan dan peradaban ditelusuri dari makna hadhoroh ( hadir dalam lingkup ruang dan waktu) lalu tsaqofah ( kemampuan untuk memahami ide secara mendalam) dan madaniyah (aspek kehidupan).

Sedangkan dalam bahasa inggris, kebudayaan dan peradaban dibedakan antara culture yang berarti kemauan masyarakat untuk mendirikan yang di inginkan yang terefleksi pada seni,moral dan religi. Dan peradaban diartikan dengan istilah civilization yang bermakna manifestasi kemajuan masyarakat dalam mendirikan apa yang digunakan manusia yang terefleksi pada politik dan ekomomi serta tekhnologi.

Malik Benabi mendefinisikan peradaban sebagai keseluruhan sarana moral dan sosial yang membuat masyarakat memberikan jaminan sosial yang diperlukan oleh anggotanya untuk mencapai kemajuan masyarakat. Sayid Qutb pernah berencana menerbitkan buku yang membahas tentang “menuju masyarakat islam yang berperadaban”. Namun kemudian Sayid Qutb merubah menjadi “menuju masyarakat islam” dan menghilangkan kata perabadan. Kemudian Malik Benabi mengkritiknya karena Sayid Qutb menghilangkan permasalahan yang sesungguhnya pada masyarakat. Karena islam merupakan kulminasi sifat beradab manusia, dan islam sendiri adalah peradaban.

Kebudayaan dan peradaban merupakan aspek kehidupan sosial manusia. Karena kebudayaan dan peradaban adalah dua aspek penting dalam kehidupan manusia. Ide utama peradaban adalah kemajuan kebudayaan dari masyarakat yang memiliki nilai dan dasar pemikiran yang menjadi identitas kulturnya. Nilai nilai yang ada tidak begitu hilang ketika peradaban itu mundur atau bahkan hancur. Sebuah peradaban memiliki siklus dalam ruang dan waktu. Peradaban pasti mengalami pasang dan surut. Sedang kebudayaan lepas dari kontradiksi ruang dan waktu memiliki ukuran sendiri.

Membangun peradaban tidak bisa dengan sekedar menumpuk numpuk dengan produk peradaban lain. Sebuah peradaban diukur dengan pencapainnya. Untuk membangun peradaban perlu adanya jaringan sosial yang menciptakan pranata sosial yang memungkinannya menerima dan mengembangkan produk peradaban lain dalam kebudayaannya sendiri.

Jika kita bisa membangun peradaban islami sendiri yang kokoh dan mempunyai identitas kebudayaan yang islami. Maka kita tidak akan mudah tergoda dan diombang ambing kebudayaan dari peradaban lain yang nilainya bertentangan dengan kebudayaan peradaban kita sendiri.

Wallahu 'alam bi showab
#fitrah based education
#pendidikan berbasis fitrah
#HEbAT community

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates