Jumat, 29 September 2017

Bismillaah
 Jumat Barakah, itulah doa yang selalu terngiang indah jika memasuki hari Jumat. Apalagi malam ini kita memasuki hari istimewa tanggal 10 Muharram, pasti sudah pada tahu kan apa keistimewaannya? .

Kalau masih penasaran insyaallah Saya ingin berbagi tentang keistimewaan tanggal ini, mohon doa restunya. hehe

 Harinya istimewa, tanggalnya pun juga, ditambah lagi ada acara kuliah online dibeberapa grup yang Saya ikuti yang tak kalah istimewa, wah alhamdulillaah. Karena sedang terpukau dengan beberapa acara tersebut, Saya sampai terlupa kalau tugas harian grup One Day One Post belum rilis, maafkanlah. 
Daripada Saya mempunyai hutang tulisan lebih baik Saya berbagi sedikit ilmu dari salahsatu kuliah online yang sedang berlangsung.Kali ini Saya ingin berbagi ilmu dari grup Temu Pendidik Mingguan yang mempunyai tujuan sebagai wadah berbagi praktik pengajaran dan pendidikan. Kenapa Saya pilih grup ini? Agar lebih banyak pembaca yang tertular semangat untuk terus belajar bagaimana cara mendidik anak bangsa dengan praktik yang terbaik. 
Baiklah, inilah sedikit prakata materi bersama ibu Yulia Indriyati Manajer Program Keluarga Kita di grup tersebut; 


Keluarga Kita atau lengkapnya Yayasan Rangkul Keluarga Kita adalah organisasi pendidikan non-profit yang bergerak di bidang pengembangan pendidikan keluarga. 
Yang melatarbelakangi terbentuknya organisasi ini; Tentu awalnya ada pemicu internal, atau kebutuhan pribadi, yaitu saat menjadi orangtua menyadari kebutuhan akan informasi dan wawasan tentang mengasuh anak. Dan sampai di level menerima bahwa mengasuh anak itu penuh tantangan dan memerlukan keterampilan. Setelah itu melihat besarnya peran orangtua sebagai fasilitator tumbuh kembang anak, semakin yakin bahwa perlu ada cara belajar mengasuh anak yang efektif. Selanjutnya, melihat kebutuhan yang lebih besar yaitu bahwa pengasuhan bukan urusan pribadi, tapi urusan bersama. Persis seperti peribahasa “it takes a village to raise a child”. Pandangan ini masuk akal sekali, sangat tidak pribadi urusan pengasuhan ini kecuali selamanya kita mau kekepin anak kita di rumah. Nggak mungkin, kan. Anak kita pada akhirnya akan menjadi bagian dari masyarakat, dan pengasuhan di rumah akan menjadi dasarnya berperan kelak. 

Keluarga Kita merancang program untuk meningkatkan kapasitas orangtua dengan cara 2 hal: 
  1. Menyusun konten kurikulum pengasuhan. Terdengar kelewat serius ya? 
Sebenernya nggak kok. Justru penyusunan kurikulum ini tujuannya untuk memudahkan orangtua untuk memahami hal-hal yang esensial dalam pengasuhan. 
Kurikulum tersebut adalah: 
  • KURIKULUM HUBUNGAN REFLEKTIF Anak yang BAHAGIA berawal dari orang dewasa di sekitar yang memiliki hubungan yang baik.
  •  KURIKULUM DISIPLIN POSITIF Anak yang MANDIRI berawal dari penerapan pola disiplin tanpa kekeresan, hukuman dan sogokan. 
  • KURIKULUM BELAJAR EFEKTIF Anak yang CERDAS membutuhkan proses belajar yang menyenangkan dan menantang Materi-materi bisa didapatkan dengan cara bergabung dalam program RANGKUL, singkatan dari Relawan Keluarga Kita. Apa itu?.
2. Program RANGKUL atau Relawan Keluarga Kita adalah program pemberdayaan orangtua di mana orangtua belajar dari sesama orangtua.
Dengan menjadi RANGKUL, para orangtua dapat mengakses materi kurikulum yang akan berdampak positif pada keluarga masing-masing dan juga untuk dibagikan pada orangtua di sekitar RANGKUL. Saat ini RANGKUL tersebar di 49 Kabupaten/Kota di berbagai wilayah Indonesia. Perkembangan dan Dampak yang dilakukan Keluarga Kita Seiring berjalan waktu, semakin banyak orangtua yang mengakses materi Kurikulum Keluarga Kita, semakin banyak juga pengembangan dan evaluasi berkala yang berjalan dan semakin menguatkan materinya.

 Program RANGKUL juga terus diujikan pada orangtua dengan berbagai latar belakang budaya, tingkat pendidikan dan situasi sosial yang berbeda. Cerita perubahan terus mengalir dan sebagai organisasi pendidikan kami berupaya untuk terus belajar dan berinovasi di bidang pendidikan keluarga. Anak-anak adalah tujuan utama kita bekerja keras memajukan pendidikan. Yang selalu kita harapkan adalah bagaimana anak kita tumbuh menjadi seorang yang berhasil di kemudian hari. Kita, baik sebagai orang tua maupun pendidik. Kepedulian ini kemudian menghadirkan sebuah inisiasi untuk menyediakan format pengembangan diri sebagai orang tua. Ya, sebagai orang tua pun kita harus berusaha belajar demi bisa memfasilitasi perkembangan anak-anak kita, lebih dari pengalaman saat kita dulu tumbuh.

 Nah, itulah sedikit profil yang menjadi prakata kuliah malam ini. Berhubung Saya masih menyimak keseruan diskusi grup tersebut, dengan berat bdan, eh maksudnya berat hati Saya harus menyudahi tulisan ini. Tapi tenang, Saya bagikan cuplikan sesi tanya jawab yang insyaallah bermanfaat.

Bagaimana cara Kita menerapkan pola supaya Anak dapat disiplin tanpa adanya embel embel (hukuman/sanksi/punishment?
Ibu Yulia menjawabnya dengan share pengalaman penerapan, yaitu;

1. Orangtua harus yakin dulu bahwa anak mampu dan bisa disiplin tanpa hukuman dan sogokan.
 Kita perlu melihatnya dari titik berdiri yang positif. Karena jika kita sudah memandang anak bahwa mereka hanya bisa disiplin dengan hukuman dan sogokan, akan menjadi hambatan. Tentunya ini tantangan tersendiri, karena terkait pola pengasuhan yang pernah kita alami.

 2. Perlu kemampuan untuk dapat mengelola emosi kita dengan baik. Menjadi orangtua adalah pengalaman yang emosional, apalagi peran kita bukan hanya sebagai ortu, tapi juga berbarengan sebagai anak, sebagai pasangan, karyawan dll. Menjadi orangtua yang tenang adalah kunci penerapan disiplin tanpa hukuman dan sogokan. 3. Perlu ada kesepakatan bersama dengan anak, sehingga penerapan disiplin sifatnya preventif, bukan insidental apalagi emosional.

Wallahu 'alam

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates