Selasa, 26 September 2017

Bismillaah
Di malam delapan terakhir bulan haram itu, bulan dimana Rasulullah Shallaallahu 'Alaihi Wasallam diperintah untuk melakukan perjalanan  isra' miraj sebagai penghibur karena ditinggal istri dan paman tercinta, terbaringlah seorang istri  di ruang tengah sebuah  gubuk kecil pinggiran kabupaten Malang sambil merasakan kesakitan yang amat katanya. Usia kandungan yang sudah tua mulai menunjukkan tanda-tanda kontraksi yang lebih sakit  dari sebelumnya. Sang bidan menyatakan prediksinya jikalau   kelahiran jabang bayi  diantara bulan haram ini, maklum biaya USG waktu itu terlalu mahal untuk dilakoni.
Sang suami pun sibuk membantu menyiapkan peralatan yang harus dibawanya nanti. Sanak keluarga pun mulai berdatangan setelah  mendapat kabar gembira ini sebelumnya.
Setelah perlengkapan dirasa cukup, diboncenglah sang istri menuju rumah bidan rujukan mereka , restu orangtua dan doa sanak keluarga turut mengantar keberangkatan.
Entah   harus menunggu berapa lama, mungkin  saking senangnya mereka sampai terlupa  bagaimana proses kelahiran jabang bayi perdananya.
Tepat pukul 21.30 WIB, terdengarlah tangisan bayi dari dalam ruang kelahiran, betapa bahagianya perasaan sang ibunda dan orang tercinta yang turut mendampinginya, seorang bayi perempuan mungil telah lahir secara normal dengan kondisi tali pusar melilit pada leher. Bagaimana pun itu  hamdalah terus terucap di malam itu karena sang buah hati yang telah dinanti bertahun-tahun sejak hari pernikahan  bisa lahir dengan selamat.
Baarakallahulakuma wa baaraka 'alaikuma wa jaama'a baina kumaa fii khair terus terdengar dari para sanak tetangga yang ikut berbahagia dengan kelahiran ini.
Dikisahkan selama masa tumbuh kembang sang buah hati sering terserang penyakit ringan , bolak balik klinik untuk ikhtiyar kesembuhan rutin dilakukan , sampai remaja pun terlihat kalau imunitas sang anak kurang. Namun, hamdalah tetap mengiringi akhir kisah ini, sebab sampai hari ini sang buah hati belum pernah dan semoga tidak pernah masuk rumah sakit yang bukan rahasia umum lagi jika biaya rawatnya lebih terbilang daripada sebuah klinik . Allahumma aamiin .
Memasuki masa pra aqil baligh , sang buah hati mulai belajar memahami bagaimana suka dukanya menjadi orangtua, apalagi setelah buah hati perdana ini mendapatkan teman kecil berjenis kelamin sama dari rahim yang pernah ditinggalinya dulu. Alhamdulillah
Menginjak remaja mereka berdua tumbuh bersama dengan jalan cerita yang berbeda, padahal cara pengasuhan yang diberikan sudah dirasa sama. Itulah uniknya manusia.
Suatu masa, saat berada di lembaga sekolah yang sama, dimana si tua sedang mengikuti prosesi pelepasan jenjang sekolah dasar, sedangkan si muda turut tampil memeriahkan acara gebyar. Di pertengahan acara , panitia mengumumkan para siswa teladan dan berprestasi dalam periode itu, baik si tua maupun si muda merasakan dag dig dug ala anak-anak lugu. Dicarilah wajah sang ratu diantara para penonton yang sedang termangu. Berharap bisa memberikan yang terbaik di malam itu, demi ibu.
Pembawa acara sibuk membacakan kertas contekan, terdengar keriuhan para undangan, di belakang panggung kami dikumpulkan.
Sesuai urutan, terpanggilah nama si muda duluan, karena sebuah kemenangan, saat mengikuti perlombaan.
Sampai di ujung daftar, nama si tua ternyata yang keluar, sontak terkejut berbinar, sambil maju tersenyum lebar.
Dari kejauhan terlihat tetes airmata keharuan, sang ratu menundukkan kepala tanda penghormatan, pada para dayang yang mampu tampil  bersamaan, menorehkan kebahagiaan.
Segala puji hanya milik Allah sang Maha membuat keputusan.
Itulah  sekelumit kisah berkesan, dari seorang anak pedesaan, mungkin terlalu pendek simpul rangkaian , karena ide sukar bermunculan, dengan segala kerendahan,  mohon kiranya dimaafkan. Demikian
Malang, 26 September 2017
#ODOP4
#Tantangan1

3 komentar

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates