Selasa, 11 Oktober 2016

Bismillah
Masih dengan percobaan merangkai beragam garis demi kepuasan diri.

***

Meskipun telah reda, namun dingin nya suhu  sebagai bonus dari rahmatulloh berupa derasnya air hujan dalam kurun  sehari penuh  ini masih terasa menusuk tulang.

Percikan air yang masih kuat mengetuk tanah disertai merdunya erikan jangkrik menambah bonus rahmat yang kami dapat petang ini.

Alhamdulillah, bonus hari ini masih tergolong wajar sehingga tidak sampai menimbulkan overdosis bagi kami disino, entah bagaimana bonus yang akan kami dapat pada hari-hari selanjutnya, semoga masih tetap dalam batas kewajaran.

Sebagian warga tetap menjalankan aktivitas kesehariannya. Mereka seperti sudah mati rasa dengan keadaan seperti ini, sebab saking seringnya.
Begitu pula dengan aktivitas tholabul ilmi yang tetap dilakukan hampir di semua masjid maupun pesantren yang ada di daerahku. Ba'da maghrib memang pantas  dijadikan waktu wajib belajar.

***

Sebut saja saat ini kami berada di selasar rumah seorang ustadz dimana nuansa religi masih terasa kental.
Para warga disini masih antusias merutinkan wajib belajar sehabis sholat maghrib hingga tiba datangnya waktu isya'.

Sang ustadz terlihat mulai mempersiapkan setumpuk bahan ajar sambil ditemani secangkir teh hangat sisa berbuka puasa hari ini. Seperti apa yang beliau sampaikan kemarin , kalau setiap tanggal 10 Muharram ada amalan puasa shunnah yang sangat dianjurkan, beliau menyebutnya puasa Suro (Asyuro).

Setelah santri dirasa cukup banyak, barulah sang ustadz mengawali  kajian malam ini dengan pembacaan ummul Quran. Selepas itu beliau menyampaikan bahwa pada pertemuan malam  ini beliau  akan menyampaikan sebuah riwayat yang berhubungan dengan manfaat mencari ilmu.

"Tatkalane wus wujud apa dina kiamat, mangka di teka ake apa patang panthan ing dalem lawange suwarga tanpa weruh hisab lan siksa : utawi kang awal iku wong alim kang ngelakoni sapa alim kelawan ilmune alim" terang sang ustadz mengartikan terjemahan riwayat dengan bahasa jawa. Kami para santri yang sebagian besar anak sok gaul yang kurang mengenal  bahasa luhur daerah hanya bisa manggut-manggut  menyimak dan sambil terus menyalin indah kalimat tersebut ke dalam selembar kertas yang sempat terkantongi.

Sambil sesekali menyeruput teh yang ada dihadapannya, sang ustadz mulai membedah maksud riwayat tersebut.

"Bilamana terjadi hari kiamat, maka didatangkan empat golongan menuju pintu surga tanpa melalui perhitungan dan siksa, siapa saja mereka?, pertama adalah golongan orang-orang berilmu yang mau  mempraktekkan ilmu yang telah didapatnya".
Sang ustadz memberikan jeda waktu pada kami untuk sejenak memikirkan sendiri maksud riwayat ini. Aku yang sedari tadi antusias menyimak meskipun harus rela membagi fokus akibat ulah  si nyamuk  juga berusaha mengaitkan riwayat itu dengan pengalaman hidupku selama ini. Mana kiranya pengalaman selama ini yang bisa dijadikan alasan agar bisa  termasuk golongan orang-orang tadi.

Selain mengingat-ingat amalan-amalan yang diajarkan para  asatidz selama ini, aku juga teringat akan gerakan one day one post dimana saat ini berusaha  ku istiqomahkan sembari menimba ilmu dari para ODOPER'S Senior selama kurun waktu  seminggu  ini. Disana aku berkesempatan mendapat berbagai ilmu tentang kepenulisan tanpa perlu memikirkan biaya pendidikan. Mungkin  kalau dinominalkan rasa-rasanya mustahil dibayar kontan. Saking pentingnya muatan materi yang mereka sampaikan, sepenting kandungan riwayat yang dibedah malam ini. Hampir mirip dengan pembahasan malam ini, para senior selalu menyemangati kami agar selalu menerapkan ilmu yang didapat dengan terus berusaha menulis setiap hari. Salah satu dari mereka juga sempat meyakinkan bahwa sebuah tulisan tidak akan berubah indah jikalau kita tak pernah mencoba menuangkannya.

Imajinasiku sontak bermain-main, membayangkan bagaimana orang-orang mulia ini menikmati bonus amal sholihnya selama di dunia, bagaimana pula caranya, agar aku  mendapatkan imbas dari mereka, paling tidak ikut tersebut dalam setiap do'a.

Deheman sang ustadz membuyarkan imajinasiku, beliau mulai memberikan penjelasan akan maksud riwayat itu;
"Ingat yo tole, yo nduk...!,
dimanapun, kapanpun, bagaimanapun kalian mencari ilmu, apabila tidak kalian terapkan ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari, mustahil ilmu itu akan bermanfaat bagi kehidupan kalian baik di dunia lebih-lebih di akhirat kelak.Namun, saat menerapkan suatu ilmu tetaplah jaga niat ikhlash kalian,  jangan menerapkan suatu ilmu hanya karena pujian, bayaran maupun cacian sekalipun. Niatkan semua amalan kalian hanya untuk beribadah kepada Alloh.
Sulit bukan kedengarannya?, harus berusaha selalu memperbaharui niatan ikhlash di dalam jiwa,  tapi percayalah bahwa Allah memaklumi kita sebagai manusia yang tak luput dari salah dan lupa. Karena kita makhluk maklum bukan ma'sum seperti Nabi. Terus terapkan ilmumu dengan ikhlash sampai maut memisahkan ". terang sang ustadz dengan suara lantang.

***

Detak dada terasa melambat, bersamaan dengan kedua mata yang mulai terasa panas, ternyata sarafku masih mau bekerja normal, mendorong keluar air mata penyesalan meski hanya setitik saja. Kalimat istighfar coba kuulang-ulang untuk mengendalikan napas yang tercekat.

11 Muharram 1438 H.


#OneDayOnePost

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates