Rabu, 05 Oktober 2016

"Ayo buk, kata bu guru aku harus tiba disana sebelum adzan maghrib!" pintanya manja.
"Iya nduk sabar, disana nanti  masih  harus menunggu lama kok." terang ibu.
Cuplikan dialog tersebut  masih terekam kuat dalam memori kenangan, kenangan manis yang membuat sedih sang gadis apabila mengingatnya, kenangan saat sang gadis masih menyandang status bocah Raudhatul Athfal.

***

Entah pukul berapa  percakapan  tersebut  terjadi, karena  si bocah belum bisa mengikuti jalannya jarum jam,  yang pasti saat itu mega merah mulai beranjak menyembunyikan keindahan nya.

Adzan maghrib saling sahut menyahut memecah kesunyian desa,  dzikir pujian sebelum sholat menambah semarak petang hari itu.
Namun sepertinya, lebih semarak lagi perasaan bocah cilik yang akan mengakhiri masa bermainnya di taman kanak-kanak.

Petang itu dia akan mengikuti prosesi perpisahan yang selalu diadakan pihak sekolah setiap tahunnya. Dan di tahun tersebut giliran dia yang akan tampil menjadi tontonan.

Riuh rendah suara mesin kendaran bermotor menjadi musik latar racauan si bocah mengingat-ingat instruksi sang  guru di sekolah saat masa-masa latihan. Hampir setiap hari dalam waktu yang sangat lama menurutnya, si bocah  dan teman-teman harus mengikuti latihan ini itu agar bisa menjadi tontonan lucu yang menghibur saat malam perpisahan, padahal semua latihan itu sangat mengganggu jadwal bermain mereka. Apalagi setelah acara tersebut  mereka bakal terpisah  untuk waktu yang sangat lama tak tahu kapan berjumpa.

***

"Ayo nak, atur barisan dengan rapi!. Yang tinggi di belakang yah, biar yang rendah kelihatan." pinta sang guru pada sesi terakhir latihan.
"Horee... Aku tetap di depan , weekkk." Celetuk si bocah mengejek temannya.
Itu mungkin luapan rasa 'bangga' seorang bocah lugu yang ditakdirkan bertubuh pendek  diantara teman sekelas nya.

"Mbak, nanti kalau memimpin temannya membaca ikrar yang lantang yah...!. Bu guru bantu dari bawah panggung kok." Tegas bu guru mengingatkan.
"Siap bu guru." Jawabnya bersemangat.
Ya... si bocah ditunjuk oleh sang guru untuk memimpin teman sekelasnya membaca ikrar saat malam perpisahan nanti. Entah apa gerangan yang menjadikannya dipercayai untuk menjalankan amanat tersebut, mungkin karena suaranya tergolong nyaring, mungkin juga karena posisinya yang berada di depan karena takdir tadi. Tapi, itu semua muncul dari benak  si gadis yang tak terpikirkan oleh si bocah saat itu, karena si bocah terlalu senang mendapatkan tugas dari sang guru, apapun itu.

***

"Untuk hari ini latihan cukup sampai disini, besok pagi kalian libur yah, gunakan untuk istirahat agar malam harinya bisa menampilkan yang terbaik. Assalamu'alaikum." Terang bu guru .
"Iya bu, wa'alaikumussalam." Jawab para siswa serempak.

***

Selama perjalanan pulang , tak hentinya si bocah mengulang-ulang teks ikrar yang sudah dihafalnya di luar kepala semata-mata karena ia ingin membahagiakan sang guru di malam pelepasan status nya sebagai anak RA.
Siang itu sengaja dipercepat langkah kaki nya agar ia bisa segera menemui ayah ibunya untuk meluapkan kebahagiaannya. " Ayah, ibu... aku pasti bisa!".
"Alhamdulillah nduk, tinggal dijaga kesehatan mu."

***

Sejak sepulang sekolah hingga malam menjelang, imajinasi  si bocah terus berkutat pada acara perpisahan malam selanjutnya. Bagaimana penampilannya nanti, apa saja yang akan terjadi di atas panggung nantinya, dan bagaimana para penonton mengungkapkan kebanggaan padanya. Semua khayalan itu terbawa sampai ke alam bawah sadarnya. Sangat indah tanpa perasaan bersalah.

***

"Nduk, mainnya sebentar saja, kalau sampai sakit kamu bakalan batal tampil nanti!" nasehat ibu petang itu.
Namanya juga bocah lugu, masih  lebih mementingkan  bermain sepuasnya daripada  pengalaman perdananya naik pentas.
Tapi saat itu  si bocah masih mau mentaati nasehat sang ibu,  sebab rasa takut jikalau mengecewakan para penonton teristimewa.

***

Suara jangkrik yang  mengerik bersahutan   semakin menambah gelisah perasaan si bocah petang itu.
"Aku dah siap buk, nanti berangkatnya jangan sampai telat yah!" Seru si bocah.
"Insya Alloh nduk, tapi ibuk nanti nganterin kamu sehabis sholat maghrib yah, ayahmu kan sedang pergi keluar." Sahut sang ibu.

Jeda antara  adzan maghrib dengan ritual sholat sang ibu dirasanya sangat lama, hingga ia bolak balik keluar masuk rumah hanya untuk memastikan bahwa langit masih merah, menandakan kalau malam belum tiba.

"Nduk,  kita berangkatnya jalan kaki yah, sepeda ibu mendadak bocor." Tukas ibu.
"Yah, nanti telat dong!" Jawab lirih si bocah karena kecewa.

***

Setibanya di dekat sekolah, sederetan  pedagang kaki lima tampak  tak  menarik seperti hari biasanya,  si bocah hanya tertarik pada alunan sayup-sayup suara soundsystem.

Alunan itu makin terdengar jelas setibanya di halaman sekolah
"Wassalamualaikum warahmatullohi wabarakatuh."
"Beri tepuk tangan yang meriah untuk  ananda RA B!" Seru pembawa acara pada para penonton.

"Hah!, itu kan teman-teman ku, ahh mungkin mereka masih disuruh  latihan lagi!" Pikir si bocah ketika melihat teman sekelasnya berbaris menuruni pentas.
Sesampainya di bawah panggung, si bocah beserta ibunya clingak clinguk mencari sang guru, berharap kalau para teman itu memang benar-benar sedang latihan.
" lho ... adek baru datang yah, itu teman-temanmu baru saja selesai membaca ikrar, dari tadi ditunggu ga datang-datang!" pekik seorang ibu yang mengikuti jalannya acara.

"Ooooh benarkah...!, hiks..hiks..hiks..." spontan meluap tangis si bocah sambil memukuli kaki sang ibu.
"Sudah nduk, ga perlu sedih, ga boleh marah juga sama ibunya. Setelah ini kamu tampil lagi kok, nanti kalau menangis  hilang cantiknya lho!" Hibur seorang guru yang mendengarkan tangis kekecewaan seorang bocah yang tak punya rasa bersalah. Itulah sifat bocah.

***

Setelah tersadar dari lamunan masa kecilnya, sang gadis baru merasakan akan indahnya pelajaran yang bisa diambilnya dari kenangan tersebut.
Andai saja, sang ibu menuruti kemauan si bocah untuk berangkat  sebelum adzan, pasti sholat maghrib sang ibu dihari itu harus tergadaikan hanya demi erangan seorang bocah manja.
Sang gadis baru sadar sekarang setelah dia peka terhadap perasaan bersalah, karena saat sang gadis masih berstatus bocah  RA dia memang tak dituntut oleh rasa salah apalagi dosa.
Jarang sekali ada seorang gadis yang bisa mendapatkan hidayah dari  kejadian sarat makna seperti itu terlebih lagi itu terjadi pada  masa dimana ia belum bisa menanggung perasaan berdosa.

Salam fastabiqul khairat !

#OneDayOnePost


2 komentar

aduhh nyesel banget rasnya ituuu,,, dan pasti marah bgt sama ibu nya,,, hehehhhee..

keren mba

REPLY

Jujur iyah waktu itu , tapi sekarang paham juga akhirya

REPLY

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates