Selasa, 27 September 2016

Bismillah
Karena keterpaksaan yang menggebu-gebu, semoga puas si HATI setelah aku berusaha mengetikkannya.

Sejak tulisan ini terpublikasikan, aku akan terus belajar terpantik oleh semangat para makhluk kreatif yang selalu berusaha  memberikan manfaat baik untuk orang lain maupun untuk dirinya pribadi melalui kerumunan huruf.

#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-

Hidayah of the day#1



Setelah menyimak penjelasan sang guru seputar taubat, ada satu kata yang masih terngiang-ngiang hingga sekarang.
"Aku dan semua manusia yang menyampaikan pesan ini hanya perantara, tinggal bagaimana hatimu menanggapi nya!."

Yah, sebuah kalimat pendek yang menurutku sarat akan makna.

Sudah lumayan lama aku bisa menginjakkan kaki di bumi dengan tegak, menetap di tanah kelahiran yang tergolong makmur, rebahan dengan nyenyak di kasur, dan segala kemudahan lain yang ternyata ingkarku lebih banyak daripada syukurku.

Sekarang aku mulai bisa merasakan bagaimana suka dukanya menjalani roda kehidupan. Melakukan perjalanan di bumi tidak hanya melewati jalan beraspal, aku juga harus siap melewati jalan makadam dengan kerikil bahkan batu tajam yang siap menghantam.

Masih  hangat diingatanku bagaimana  jika nasehat itu berada dalam kenyataan. Misalnya saja, saat aku mendapat peringatan keras dari seorang teman akibat bercandaku yang menurutnya keterlaluan. Kesal, marah,  sesak dan semua emosi buruk seketika muncul bersamaan saat mendengarkan peringatan itu . Akibatnya, aku menolak semua peringatan yang dia berikan dan sempat ada perasaan tidak mau bertemu dengan dia lagi. Namun syukurlah, saat aku sudah mulai bisa berpikir jernih,  sepercik obat mulai menyembuhkan rasa sakit hati yang kuderita. Si teman berniat baik mengingatkan akan kejahilan yang kulakukan namun kenapa aku menolak?!. Setelah sadar,  buru-buru aku memohon maaf akan kekhilafanku. Untungnya, si teman mau memaafkan kesalahanku itu meskipun dia masih terlihat memendam rasa tidak lega. Ternyata dibalik kejadian sepele itu,  aku bisa belajar bagaimana mengatasi emosi buruk akibat tertutupnya hati dari menerima sebuah teguran  .

Bercermin dari sekelumit pengalaman tersebut,
Aku mulai  memikirkan akan bagaimana cara terbaik menyelesaikan permasalahan hidup. Aku berusaha memahami bahwa tidak semua masalah dihadapi dengan emosi berlebihan. Boleh saja mengungkapkan emosi, namun harus dengan cara yang diterima oleh sekitar. Menurutku, apabila emosi berlebihan seperti itu lebih  sering muncul dalam menghadapi masalah itu diakibatkan karena aku  lupa bersyukur atas kenikmatan hidup sedetik yang lalu . Aku lupa bagaimana cara terbaik menghadapi kesusahan . Aku lupa akan pencipta kesusahan itu ,
yah... aku telah melupakanNya, astaghfirulloh. Maka dari itu , aku harus selalu melatih diri agar selalu bersyukur dan memperbanyak taubat  dalam keadaan bagaimanapun.  Agar usahaku lebih mudah, langkah awal yang aku tempuh adalah  lebih banyak dan lebih sering mencari mutiara hikmah agar hati ini selalu dalam kondisi stabil dalam menyelesaikan masalah.     Meskipun tidak menutup kemungkinan akan ada masa dimana hati ini kembali labil.
*******
Aku bukan orang baik ,  namun Alloh sayang dengan menutupi dari segala aib.

2 komentar

Terimakasih sudah berkunjung dan berkomentar. Semoga bermanfaat

J A Z I L U L A . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates